Sejarah Pondok Pesantren Husnul Hidayah Karangtanjung dan Silsilah KH Ahmad Zaini Rifa’i
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sab, 4 Mei 2024
- visibility 10.365
- comment 0 komentar

Syeikh KH Ahmad Zaini Rifa'i.
Sambil menyelam minum air, mungkin itu istilah yang pas bagi beliau. Selain ngaji, beliau sekaligus berkhidmah dengan gurunya Syeikh Ibrahim bin Syeikh Irsyad selama bertahun tahun.
Dengan segala keikhlasan dan kegigihannya, walaupun hidup dengan penuh kekurangan dan keprihatinan, beliau tetap semangat menghafal dan belajar ketika bertugas di sawah dan perkebunan gurunya sembari menanti jemuran satu satunya baju dan sarung yang beliau miliki hingga benar-benar telah kering.
-
Menetap di Karangtanjung Hingga Wafat
Sepulangnya dari rihlah ilmiyyah-nya di Banyuwangi beliau dipersunting oleh KH Sulaiman untuk dijodohkan dengan putrinya yaitu Nyai Bastiroh. Adapun Nyai Bastiroh sebenarnya masih ada hubungan darah tersendiri dengan beliau karena ibunda dari Nyai Bastiroh adalah Nyai Shofiyah binti Mahfudz bin Abdul Mannan Alhasani.
Adapun Syaikh Mahfudz merupakan kakak Syeikh Mashfur beda ibu, yaitu dari istri pertama Syeikh Abdulmannan yang merupakan putri dari KH Ali bin KH Moh Alwi bin KH Imanadi, sang imam di Masjid Kauman Kebumen yang juga masih keturunan dari Kiai Marbut putra Sri Sultan Hamengkubuwono 3.
Baca Juga: Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu, Lima Abad Jadi Pusat Pendidikan Islam
Akhirnya resmi menetap di Karangtanjung dan di sinilah medan dakwah beliau hingga wafat pada malam Senin 1 Jumadil akhir 1425 hijriyah atau bertepatan dengan 19 Juli 2004.
Waktu itu bagi kami pribadi meninggalkan memori tersendiri selain saat itu penulis masih kelas 5 sekolah dasar dan hari pertamanya masuk sekolah. Tidak sampai itu, bahkan ketika beliau telah mukim dan bermaskan sekaligus beristri, beliau tetap mengaji ke ulama-ulama pada masanya di antaranya, beliau belajar kepada KH Nasuha Wonoyoso, KH Jarir Glonggong, KH Tahrir Seruni, KH Asyari Poncor, Salatiga dan masih banyak lainnya.
Di antara kalam mutiara beliau yang sering dipesankan kepada segenap santri dan keluarga adalah; “Nek tuku meja, mesti oleh sak longane.” (barang siapa yang membeli meja, pasti juga dapat lorong bawah mejanya). Insya-Allah maksud yang terselip dalam kalimat di atas adalah barang siapa yang mengejar akhirat pasti dunia juga bakal tercapai.
Wal-hasil bisa kita ketahui betapa tinggi ghirroh beliau kepada ilmu. Setidaknya ini bisa menjadi ibroh dan motivasi bagi para santri sekarang yang mana sudah bisa dibilang seperti tanpa beban yang begitu berarti dibanding dulu untuk lebih semangat dan sungguh-sungguh dalam belajar di masa muda.
Wallahul Musta’an
Sumber Tulisan: Facebook Pon Pes Husnul Hidayah














Saat ini belum ada komentar