Bupati Lilis Lepasliarkan Tukik di Pantai Kembar Terpadu
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Sab, 12 Jul 2025
- visibility 512
- comment 0 komentar

PURING (KebumenUpdate.com) – Semangat konservasi dan pelestarian budaya terus diwujudkan Kabupaten Kebumen melalui acara Gebyar Sedekah Bumi yang digelar di Pantai Kembar Terpadu Puring, Sabtu 12 Juli 2025.
Acara tahunan ini ditandai dengan pelepasan tukik (anak penyu) ke habitat alaminya, sebuah inisiatif yang sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Kebumen untuk mengembangkan pariwisata berbasis konservasi.

Bupati Lilis Nuryani di rumah edukasi dan konservasi penyu Pantai Kembar Terpadu. (Foto: Hari)
Hadir Bupati Lilis Nuryani bersama anggota DPRD Kebumen Madkhan Anis, Kajari Endi Sulistiyo, Kadis LHKP Asep Nurdiana, jajaran forkopimcam Puring, serta para pengelola Pantai Kembar Terpadu.
Dalam sambutannya, Bupati Lilis Nuryani menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Kebumen terus mendorong pembangunan pariwisata yang berbasis konservasi dan budaya.
Menurutnya, Pantai Kembar Terpadu ini bukan hanya tempat tujuan wisata, tapi juga contoh bagaimana alam, manusia, dan tradisi bisa tumbuh bersama secara harmonis.
“Alhamdulillah hari ini saya di Pantai Kembar Terpadu bisa melepasliarkan tukik, anakan penyu. Kecil-kecil, tapi memang mereka harus dilepasliarkan,” ungkap Bupati Lilis Nuryani usai melepas tukik ke laut lepas.
Upaya Konservasi Penyu di Pantai Kembar Terpadu
Hartono, pengelola konservasi penyu Pantai Kembar Terpadu, menjelaskan bahwa total 86 ekor tukik akan dilepasliarkan dari sejumlah 101 butir telur yang ditetaskan.
“Untuk agenda Bupati Lilis ada 20 ekor tukik, sisanya untuk acara field trip Geofest 2025,” rincinya.
Hartono juga mengungkapkan bahwa konservasi ini menaungi tiga jenis penyu: penyu hijau (1 ekor), penyu sisik (2 ekor), dan penyu lekang (2 ekor).
Kelima penyu tersebut semuanya merupakan anakan yang didapat dari patroli rutin saat masih berupa telur. Kemudian, telur-telur ini ditetaskan dan sebagian kecil ditangkarkan untuk tujuan edukasi.
“Kalau kita menjaga alam, insya Allah alam akan menjaga kita,” pesan Hartono.
Hartono menambahkan bahwa patroli dilakukan hampir setiap malam, terutama saat musim kemarau, dengan jenis penyu lekang menjadi yang paling dominan ditemukan.
Untuk memastikan kesehatan penyu-penyu di konservasi, ada relawan dokter hewan yang datang sebulan sekali untuk melakukan pemeriksaan.
Gebyar Sedekah Bumi: Merayakan Budaya dan Alam
Selain kegiatan konservasi, Gebyar Budaya Sedekah Bumi Pantai Kembar Terpadu juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan budaya. Rangkaian acara meliputi arak-arakan, lesungan, kuda lumping, jamjaneng, dan karawitan.
Saat ini, Pantai Kembar Terpadu masih bertahan dengan tidak memungut tiket masuk. Pengunjung hanya perlu membayar jasa penataan motor seikhlasnya. Fasilitas di lokasi ini juga sudah cukup lengkap, seperti warung makan, toilet, dan saung. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar