Kebumen Masuk Aglomerasi Wisata Borobudur, Geopark dan Pantai Jadi Destinasi Penyangga
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 124
- comment 0 komentar

Gubernur Jateng bersama kepala daerah saat Rembug Pembangunan Jateng di Pendopo Kabupaten Temanggung. (Foto: Humas Jateng)
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Borobudur tidak boleh berkembang sebagai destinasi tunggal. Menurutnya, kawasan warisan dunia tersebut harus berfungsi sebagai pusat konektivitas yang menghubungkan berbagai destinasi wisata di sekitarnya.
“Di Turki, begitu masuk ke sana langsung ditawari destinasi ke beberapa tempat. Semua sudah terkoneksi. Di wilayah eks Karesidenan Kedu juga harus begitu. Borobudur bisa dirasakan oleh Kebumen, dan pantai-pantai Kebumen yang bagus juga bisa dirasakan oleh Borobudur,” kata Luthfi.
Ia menjelaskan, konsep tersebut akan mengintegrasikan berbagai destinasi unggulan, mulai dari kawasan Borobudur, Kopeng, Rawa Pening, destinasi wisata Purworejo, hingga Kebumen UNESCO Global Geopark dan kawasan wisata pantainya.
Menurut Luthfi, konektivitas antarwilayah menjadi langkah penting untuk menciptakan sistem pariwisata yang saling mendukung dan mampu memperpanjang masa tinggal wisatawan di Jawa Tengah.
Dorong Pengembangan Desa Wisata
Selain penguatan konektivitas destinasi, Pemprov Jawa Tengah juga mendorong pengembangan desa wisata sebagai bagian dari ekosistem pariwisata daerah. Saat ini masing-masing daerah telah menetapkan target pengembangan desa wisata baru, yakni 50 desa wisata di Kabupaten Magelang, 45 desa wisata di Purworejo, 35 desa wisata di Kebumen, 30 desa wisata di Temanggung, dan lima desa wisata di Kota Magelang.
“Kita siapkan sekarang agar tahun 2027 tinggal pelaksanaan. Infrastruktur menuju destinasi wisata juga harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Luthfi juga meminta pemerintah kabupaten dan kota memperbanyak penyelenggaraan event wisata. Menurutnya, kalender event yang ada saat ini masih perlu ditingkatkan agar mampu menarik lebih banyak wisatawan sepanjang tahun.
“Kalau setahun baru 100 event, itu masih kurang. Tambah lagi. Pariwisata ini sektor yang tidak mengenal resesi,” tegasnya.
Untuk mendukung pengembangan kawasan Borobudur, Pemprov Jawa Tengah berencana memperkuat koordinasi dengan pengelola kawasan Candi Borobudur, pemerintah daerah, pemerintah pusat, hingga UNESCO agar pengembangan wisata tetap selaras dengan prinsip pelestarian warisan budaya dunia.
“Saya tertarik dengan Borobudur. Segera undang TWC, termasuk bupati dan Walikota Magelang. Ada sesuatu yang harus dibahas bersama tanpa mengurangi heritage,” katanya.
Kepala Daerah Berikan Dukungan
Sejumlah kepala daerah menyatakan dukungannya terhadap pengembangan kawasan wisata terintegrasi tersebut.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai manfaat ekonomi Borobudur masih perlu diperluas agar semakin dirasakan masyarakat sekitar. Salah satu gagasan yang tengah dikaji adalah membuka kawasan Borobudur pada malam hari.
“Kami berupaya agar Borobudur bisa dibuka malam hari. Dengan begitu potensi okupansi perhotelan di Magelang bisa ikut terangkat,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Temanggung Agus Setyawan berharap promosi Borobudur dapat dikolaborasikan dengan pengembangan destinasi wisata Sindoro-Sumbing yang saat ini berkembang melalui keterlibatan masyarakat dan komunitas lokal.








Saat ini belum ada komentar