Joglo Lemungsure, Hidden Gem Kebumen: Nikmati Kopi dan Kehidupan Desa yang Asri
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Rab, 1 Okt 2025
- visibility 642
- comment 0 komentar

Bupati Lilis Nuryani di Joglo Lemungsure Desa Wonoharjo Kecamatan Rowokele. (Foto: Hari)
ROWOKELE (KebumenUpdate.com) – Desa Wonoharjo di Kecamatan Rowokele menggelar Mini Expo sekaligus memperingati Hari Kopi Internasional, Rabu 1 Oktober 2025. Bertempat di lokasi ikonik Joglo Lemungsure, acara ini menjadi panggung promosi potensi desa, khususnya produk kopi dan wisata berbasis kearifan lokal.
Mini Expo dihadiri langsung Bupati Kebumen Lilis Nuryani bersama anggota DPRD Kebumen Aditya Wisnu Bayu Aji, Asisten Pemerintahan Sekda R Agung Pambudi, dan pimpinan OPD.

Bupati Lilis Nuryani mencicipi kopi asli Joglo Lemungsure Desa Wonoharjo. (Foto: Hari)
Hadir pula Forkopimcam Rowokele, Kepala Desa Wonoharjo, para Kepala Desa se-Kecamatan Rowokele, Ketua Pokdarwis Wonoharjo, Rektor UNIMUGO, serta para pelaku UMKM, Industri Kreatif, dan warga desa setempat.
Mini Expo Jadi Panggung Promosi dan Inovasi
Dalam sambutannya, Bupati Lilis Nuryani berharap Mini Expo ini berfungsi ganda, tidak hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai panggung promosi produk unggulan, tempat bertukar ilmu, dan wadah jejaring bagi para petani dan pelaku UMKM.
“Karenanya, gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk menjalin kemitraan, menerima masukan, dan berinovasi,” pesan Bupati.
Di lokasi, Bupati Lilis Nuryani berkesempatan mencicipi kopi asli Wonoharjo dan berkeliling area Joglo Lemungsure, mulai dari area makan, homestay, hingga dapur tradisional.
Puncak acara ditandai dengan launching De Hardjo Coffe Robusta dan Tour de Joglo Lemungsur yang diresmikan Bupati dengan pemukulan gong.
Transformasi Joglo Lemungsure dan Harapan Pembangunan
Kepala Desa Wonoharjo, Sri Budi Murnianto menyampaikan kebanggaan sekaligus harapan besar untuk desanya.
“Inilah Desa Wonoharjo yang ternyata medannya pegunungan, jalannya susah, tapi insya Allah ke depan, di bawah kepemimpinan Bupati Lilis Nuryani, Desa Wonoharjo akan berubah menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia juga berharap agar jalan lingkar utara yang sudah dirintis oleh Bupati Mohammad Yahya Fuad dapat segera ditindaklanjuti.
Sebagai informasi, Joglo Lemungsure diresmikan pada tahun 2019 oleh Bupati Kebumen saat itu, Yazid Mahfudz.
Awalnya, joglo ini merupakan bagian dari program pendampingan petani organik, mencakup produk seperti kopi, gula semut, minyak kelapa, dan beras.
Setelah pandemi COVID-19, pengelolaannya diserahkan kepada Pemerintah Desa Wonoharjo, bekerja sama dengan Pokdarwis sebagai pengelola utama.
Desa Wonoharjo: Harmoni Alam, Budaya, dan Potensi Geopark
Desa Wonoharjo dikenal dengan lanskapnya yang asri, dikelilingi perbukitan dan memiliki sumber air melimpah. Mayoritas penduduknya adalah petani yang mengolah berbagai hasil alam, termasuk kayu, cengkeh, kopi, padi, gula kelapa, durian, manggis, dan duku.
Desa ini juga unik karena keragaman agamanya, dengan komunitas Buddha yang menggunakan tiga vihara untuk ibadah dan meditasi, hidup berdampingan secara harmonis dengan masyarakat muslim.
Saat ini, Desa Wonoharjo tengah melaksanakan riset dengan tema membangun branding wisata desa Wonoharjo melalui experience best tourism dan optimalisasi produk kopi.
Pokdarwis Wonoharjo berharap desa mereka dapat masuk menjadi salah satu situs Geopark Kebumen yang sudah berstatus UGGp (UNESCO Global Geopark).
Joglo Lemungsure menawarkan pengalaman unik yang menenangkan. Pengunjung dapat menikmati makanan tradisional yang dimasak dengan tungku, merasakan ketenangan tanpa gangguan sinyal, ditemani suara burung di pagi hari, gemericik sungai, dan tonggeret di sore hari.
Bagi pencari tantangan, tersedia aktivitas seperti treking ke Bukit Dewa, menanam pohon, atau belajar langsung bagaimana masyarakat mengolah hasil pertanian menjadi sumber ekonomi berkelanjutan. Joglo Lemungsure menjanjikan pengalaman mendalam tentang kehidupan desa yang harmonis dan berkelanjutan. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar