SIMARINA Hadir di Desa Mangli, Dorong Kader Posyandu Deteksi Dini Risiko Ibu Hamil dan Balita Berbasis Digital
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 19 Agu 2026
- visibility 275
- comment 0 komentar

Program ini juga diarahkan untuk memperkuat koordinasi antara kader, bidan desa, Puskesmas Kuwarasan, dan pemerintah desa. Dengan tersedianya data yang lebih tertata, proses pengambilan keputusan dan rujukan diharapkan menjadi lebih responsif.

Kader Menjadi Garda Terdepan Deteksi Dini
Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah sosialisasi kepada kader Posyandu, bidan desa, dan perwakilan pemerintah Desa Mangli. Sosialisasi bertujuan menyamakan pemahaman mengenai pentingnya deteksi dini serta memperkenalkan manfaat dan alur penggunaan SIMARINA.
Tahap berikutnya adalah pelatihan. Seluruh kader mendapatkan materi mengenai deteksi dini risiko ibu hamil dan balita, pengisian data KIA melalui aplikasi, interpretasi hasil skrining, serta tindak lanjut dan rujukan. Pelatihan dilakukan secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, dan praktik langsung.
Kemampuan kader diukur melalui pre-test dan post-test. Target program adalah lebih dari 80 persen kader mampu mencapai kelulusan post-test setelah mengikuti pelatihan.
Setelah pelatihan, kader mulai menerapkan SIMARINA dalam kegiatan Posyandu. Mereka didampingi untuk memasukkan data, melakukan skrining, membaca hasil identifikasi risiko, serta memahami mekanisme notifikasi dan pelaporan.
Pendampingan juga dilakukan secara berkala untuk memastikan aplikasi benar-benar digunakan dalam kegiatan rutin dan bukan hanya selama program berlangsung.
Mendorong Rujukan Lebih Cepat
Salah satu persoalan yang ingin diatasi melalui program ini adalah keterlambatan identifikasi risiko. Dalam kondisi pencatatan manual, informasi mengenai kondisi ibu hamil atau balita dapat membutuhkan waktu untuk dikumpulkan, ditelusuri, dan dilaporkan.
SIMARINA dirancang untuk membantu kader mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan perhatian lebih awal. Data hasil skrining dapat menjadi dasar komunikasi antara kader dan bidan desa dalam menentukan tindak lanjut sesuai kewenangan dan prosedur pelayanan kesehatan.
Dengan demikian, aplikasi ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran tenaga kesehatan. Sebaliknya, SIMARINA menjadi alat bantu bagi kader dan tenaga kesehatan untuk memperoleh informasi yang lebih terstruktur dalam mendukung pemantauan dan tindak lanjut.
Target program adalah lebih dari 70 persen ibu hamil dan balita sasaran memiliki status risiko yang terdokumentasi melalui sistem.

Tidak Berhenti Setelah Program Selesai
Keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Karena itu, tim pengusul tidak hanya memberikan pelatihan aplikasi, tetapi juga menyusun SOP penggunaan SIMARINA dan menunjuk kader inti sebagai penggerak implementasi di tingkat Posyandu.
Penggunaan aplikasi akan diintegrasikan dengan kegiatan Posyandu rutin. Koordinasi dengan bidan desa, Puskesmas Kuwarasan, dan pemerintah Desa Mangli juga diperkuat agar sistem dapat terus dimanfaatkan setelah program PKM selesai.
Program ini diharapkan mampu mengurangi waktu pelaporan lebih dari 50 persen, meningkatkan kemampuan kader dalam deteksi dini, serta memperbaiki keteraturan pencatatan dan monitoring kesehatan ibu dan anak.
Hilirisasi Inovasi untuk Masyarakat
Pengembangan SIMARINA merupakan bagian dari upaya menghilirkan hasil riset dan pengalaman akademik tim pengusul ke masyarakat. Tim memiliki latar belakang dan pengalaman dalam bidang keperawatan maternitas, kebidanan, teknologi informasi, pelayanan KIA, pemberdayaan kader, serta pengembangan inovasi berbasis komunitas.
Ketua pelaksana, Ns. Diah Astutiningrum, M.Kep, memiliki kepakaran di bidang keperawatan maternitas dan berperan dalam koordinasi program serta pengembangan model implementasi SIMARINA.
Anggota tim, Dyah Puji Astuti, S.SiT., M.P.H, dengan kepakaran kebidanan, berperan dalam penyusunan materi dan pendampingan kader dalam memahami indikator deteksi dini.
Sementara itu, Imam Tri Suryadin, S.Kom., M.Kom, yang memiliki kepakaran di bidang teknologi informasi, bertanggung jawab dalam pengembangan, pengujian, debugging, serta pendampingan implementasi aplikasi.
Kegiatan ini sepenuhnya didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Dalam kegiatan ini, mahasiswa dilibatkan dalam survei awal, persiapan pelatihan, pendampingan kader, serta penerapan aplikasi di lapangan. Keterlibatan mahasiswa sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk mengaplikasikan pengetahuan akademik secara langsung di masyarakat.
Teknologi untuk Memperkuat Peran Perempuan di Desa
Lebih jauh, program ini tidak sekadar berbicara tentang aplikasi. Di balik teknologi tersebut terdapat upaya memperkuat peran kader, yang sebagian besar merupakan perempuan, sebagai bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.
Kader Posyandu selama ini menjadi salah satu penghubung utama antara masyarakat dengan tenaga kesehatan. Mereka berada dekat dengan keluarga, mengenal kondisi lingkungan setempat, dan terlibat langsung dalam kegiatan pemantauan ibu dan anak.














Saat ini belum ada komentar