SIMARINA Hadir di Desa Mangli, Dorong Kader Posyandu Deteksi Dini Risiko Ibu Hamil dan Balita Berbasis Digital
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Rab, 19 Agu 2026
- visibility 267
- comment 0 komentar

KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Transformasi digital mulai menyentuh pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat desa. Di Desa Mangli, Kecamatan Kuwarasan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, inovasi teknologi bernama SIMARINA (Sistem Informasi Skrining Risiko Kehamilan & Status Gizi Anak) dikembangkan untuk membantu kader Posyandu melakukan deteksi dini risiko kesehatan ibu hamil dan balita secara lebih cepat, tepat, dan berkelanjutan.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang menyasar Kader Posyandu Melati Desa Mangli. Program ini hadir sebagai respons terhadap masih digunakannya pencatatan kesehatan ibu dan anak secara manual yang selama ini berpotensi menyebabkan data sulit ditelusuri, keterlambatan pelaporan, hingga keterlambatan dalam mengenali risiko kesehatan.
Desa Mangli memiliki karakteristik wilayah pedesaan dan agraris dengan jumlah penduduk sekitar 3.670 jiwa. Berdasarkan data Posyandu tahun 2025, sekitar 35 persen penduduk berada pada kelompok usia subur. Selain itu, terdapat sekitar 48 ibu hamil aktif setiap tahun dan 245 balita. Besarnya jumlah sasaran tersebut membuat pemantauan kesehatan ibu dan anak membutuhkan sistem yang mampu memberikan informasi secara cepat dan berkelanjutan.
Selama ini, kegiatan deteksi dini dilakukan melalui penimbangan balita, pemeriksaan dan pencatatan dalam buku KIA serta pelaporan secara manual kepada bidan desa. Sistem tersebut tetap memiliki peran penting, tetapi belum sepenuhnya mampu menyediakan pengolahan data risiko secara terintegrasi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi 10 kader Posyandu Melati yang sebagian besar berusia 30–50 tahun dan telah memiliki pengalaman menjadi kader selama 5–15 tahun. Dengan latar belakang pendidikan SMP dan SMA/SMK sederajat, para kader memiliki komitmen tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, namun kemampuan penggunaan teknologi digital masih perlu diperkuat.
Melalui program PKM ini, kader tidak hanya diperkenalkan dengan aplikasi, tetapi juga mendapatkan penguatan kapasitas dalam melakukan deteksi dini risiko kesehatan ibu dan anak.
“Teknologi harus hadir sebagai alat bantu yang sederhana dan mudah digunakan oleh kader. Karena itu, SIMARINA dirancang agar dapat mendukung pekerjaan kader, bukan justru menambah beban mereka,” demikian semangat utama pengembangan program tersebut.

Dari Pencatatan Manual Menuju Monitoring Digital
SIMARINA merupakan aplikasi berbasis Android yang dirancang sebagai alat bantu operasional kader dalam melakukan skrining, pencatatan, monitoring, dan identifikasi risiko ibu hamil serta balita.
Aplikasi ini memiliki sejumlah fitur utama, antara lain input data skrining risiko, notifikasi risiko, rekapitulasi data, dan monitoring. Sistem dirancang menggunakan bahasa Indonesia dengan istilah yang familiar bagi kader sehingga dapat digunakan menggunakan smartphone dengan spesifikasi standar.
Dengan sistem tersebut, data kesehatan ibu hamil dan balita diharapkan tidak lagi hanya tersimpan dalam buku pencatatan, tetapi dapat dikelola menjadi informasi yang lebih mudah dipantau. Kader dan bidan dapat melihat kondisi sasaran secara lebih terstruktur sehingga tindak lanjut terhadap kelompok berisiko dapat dilakukan lebih cepat.














Saat ini belum ada komentar