Ruang Digital Bagai Rimba Raya, PWI Jateng Serukan Penguatan Etika Bermedia
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 27 Des 2021
- visibility 2.469
- comment 0 komentar

Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS bersama Sekretaris Setiawan Hendra Kelana. (Foto: Istimewa)
SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Dinamika praktik bermedia, terutama ruang digital saat ini memperlihatkan kondisi bagai rimba raya. Siapa kuat, maka dialah yang akan survive. Ruang digital terasa keruh, karena para pelaku media cenderung lemah dalam eksplorasi etika.
“Untuk itu kita membutuhkan penguatan kearifan berkomunikasi, baik dalam ranah media massa (media mainstream) maupun media sosial,” ujar Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI ) Provinsi Jawa Tengah Amir Machmud NS bersama Sekretaris Setiawan Hendra Kelana dalam Refleksi Sikap Akhir Tahun 2021, Minggu 26 Desember 2021.
Fenomena pemanfaatan media mainstream untuk memenangi opini, antara lain dengan bersikap ofensif kepada lawan politik, berjalan beriring dengan penggunaan platform media sosial yang juga banyak menyampaikan unggahan bersifat menyerang, menista, dan mem-bully.
Baca Juga: Ini Pesan Ketua PWI Jateng untuk Wartawan Kebumen dan Purworejo
Menurut Amir Machmud, kasus-kasus yang kemudian berproses di ranah UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) menggambarkan konsekuensi berupa celah eksplorasi kearifan dalam mempertimbangkan akibat-akibat. Orang atau kelompok, dalam bidang apa pun, cenderung main posting semaunya untuk meluapkan ekspresi.
Dalam amatannya, sekarang ini berkembang fenomena begitu mudah orang menyerang pihak lain, dan begitu gampang kemudian meminta maaf. Artinya, ada kesenjangan dalam mempertimbangkan risiko-risiko ungguhan. Begitu enteng orang mengungkapkan perasaan tanpa mengeksplorasi sikap bijak.
Ruang Eksistensi
PWI Jateng juga melihat fenomena lain pada sepanjang 2021, yakni walaupun dalam suasana pandemi Covid-19, media, terutama online tumbuh subur. Namun pertumbuhan itu tidak diimbangi dengan keberkembangan watak berkesadaran untuk meliterasi diri sendiri.
“Yang muncul justru bobot pemberitaan banyak bersinggungan dengan masalah prosedur standar jurnalistik seperti lemahnya akuntabilitas dan minimnya disiplin verifikasi,” tambahnya.







Saat ini belum ada komentar