Merawat Tradisi Guyuban di Argosari, Simbol Pemersatu Dua Desa yang Tak Lekang oleh Waktu
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 68
- comment 0 komentar

AYAH (KebumenUpdate.com) – Pemerintah Desa Argosari, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen kembali menggelar tradisi tahunan “Guyuban” atau Merdi Bumi pada Minggu 24 Mei 2026.
Acara yang berlangsung meriah di Lapangan Domas desa setempat ini dihadiri langsung oleh Bupati Kebumen Lilis Nuryani dan Ir Mohammad Yahya Fuad SE.

Bupati Lilis Nuryani didampingi Ir Mohammad Yahya Fuad SE menikmati menu makanan dari tenong dalam tradisi Guyuban Desa Argosari Kecamatan Ayah. (Foto: Hari)
Tradisi Guyuban ini memiliki nilai sejarah yang kuat bagi masyarakat setempat. Berawal dari penggabungan dua desa di masa lampau, yaitu Desa Linggarsari dan Desa Gunung Tengah, kepala desa saat itu menyatukan keduanya menjadi Desa Argosari.
Nama “Argo” diambil dari Gunung Tengah yang berarti gunung, sementara “Sari” diambil dari Linggarsari. Saat ini, kedua nama desa tempo dulu tersebut diabadikan menjadi nama dusun. Penggabungan ini membawa harapan agar seluruh warga selalu bersatu dan guyub.
Ketua Panitia Kegiatan, Paridin, menjelaskan bahwa berdasarkan keputusan rapat desa, tasyakuran ini rutin dilaksanakan setiap setahun sekali di akhir bulan Zulhijah atau menjelang bulan Sura (Muharam).
“Kami sengaja melaksanakannya sebelum Lebaran Haji/Sura agar tidak berbenturan dengan banyaknya hajatan warga. Melalui forum rapat, disepakati bahwa adat istiadat Guyuban atau Merdi Bumi ini wajib diuri-uri (dilestarikan), salah satunya dengan menggelar pertunjukan wayang kulit yang sudah menjadi agenda mutlak,” ujar Paridin.
Seluruh biaya operasional kegiatan yang mencapai Rp45 juta murni berasal dari swadaya masyarakat. Pihak panitia pun menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Desa dan seluruh warga yang telah berpartisipasi menjaga tradisi ini tetap eksis tanpa halangan.
Salah satu daya tarik dalam acara ini adalah kehadiran ratusan tenong (wadah makanan tradisional dari anyaman bambu). Tenong ini menjadi simbol kerukunan, di mana warga saling bertukar makanan lalu membawanya pulang, sehingga menu yang dinikmati di rumah biasanya sudah berganti.
Kepala Desa Argosari, Jaisman Agus Wahyudi, menambahkan bahwa esensi dari acara ini adalah wujud syukur kepada Allah SWT. Ia berharap kegiatan ini dapat mempererat keakraban antarwarga demi mewujudkan desa yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (desa yang baik, aman, dan penuh ampunan), serta mendoakan agar seluruh warga diberikan kesehatan dan umur panjang.
Sementara itu, Bupati Kebumen Lilis Nuryani yang menempuh perjalanan selama 1,5 jam menuju lokasi, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap kelestarian tradisi ini. Dalam sambutannya, Bupati Lilis menyoroti potensi Desa Argosari yang dikelilingi hutan jati milik Perhutani serta banyaknya pohon kelapa yang mengindikasikan besarnya potensi pengrajin gula kelapa dan penderes di wilayah tersebut.
Terkait infrastruktur, Bupati Lilis mengakui adanya kerusakan jalan di sepanjang jalur menuju lokasi dan meminta masyarakat untuk bersabar.
“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen saat ini sedang memprioritaskan perbaikan jalan. Namun, kami mohon masyarakat bersabar karena ada 460 desa/kelurahan yang harus diakomodasi. Ditambah lagi, APBD kita mengalami pemotongan dari pusat sebesar Rp244 miliar yang juga berdampak hingga ke tingkat pemdes,” ungkap Bupati Lilis.
Meski menghadapi tantangan anggaran, Bupati menegaskan Pemkab Kebumen akan tetap berhemat demi memprioritaskan pembangunan jalan. Ia juga menekankan bahwa pembangunan daerah tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya sinergi dan dukungan dari pihak desa demi kemajuan Kebumen.
Sebagai bentuk kedekatan pemimpin dengan rakyatnya, Bupati Lilis Nuryani menyempatkan diri untuk duduk lesehan dan makan bersama warga, menikmati hidangan dari tenong yang telah disediakan.
Turut hadir dalam acara tersebut jajaran Forkopimcam Ayah, para Kepala Desa se-Kecamatan Ayah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, serta anggota Karang Taruna desa setempat. Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar