Makan Bergizi Gratis: Anak Sekolah Bisa Menabung, Warga Sekitar Dapat Pekerjaan
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sel, 14 Okt 2025
- visibility 685
- comment 0 komentar

Pelajar SMP Negeri 1 Jati, Kudus menikmati menu MBG. (Foto: Humas Jateng)
KUDUS (KebumenUpdate.com) – Suasana istirahat siang di SMP Negeri 1 Jati, Kudus tampak lebih ramai dari biasanya. Para siswa mengantre sambil membawa wadah makan, menunggu giliran menerima menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hari itu, sekolah menyajikan makaroni, tempe tepung stik, sayur jagung, dan pisang.
Qairin Alisha Alma, siswi kelas IX, mengaku sejak adanya program MBG, ia dapat menabung lebih banyak.
“Sekarang saya bisa menyimpan Rp5.000 per hari. Dulu uang itu habis untuk makan di kantin,” katanya, Selasa 13 Oktober 2025.
Program MBG telah berjalan sejak ia duduk di kelas VIII. Setiap hari, menu berganti-ganti, mulai dari nasi ayam, burger, hingga mie ayam. Bahkan, setiap Sabtu siswa masih mendapat camilan tambahan.
“Program ini bikin semangat sekolah,” ujarnya.
Tak hanya siswa, orang tua juga merasakan manfaat. Mereka tak lagi harus menyiapkan bekal atau memberi uang jajan berlebih.
“Ibu bilang senang, karena pengeluaran rumah tangga berkurang,” tambah Alisha.
Siswa lain, Iqbal Maulana Zakaria, juga merasakan hal serupa. Ia menikmati menu MBG hingga terkadang tidak makan lagi saat tiba di rumah.
“Rasanya enak. Saya jadi bisa nabung,” ucapnya sambil tersenyum.

MBG Membantu Mengurangi Beban Keluarga
Iqbal bercerita, ayahnya bekerja serabutan dan ibunya berjualan. Kehadiran MBG membantu mengurangi beban keluarga.
“Ibu sering tanya, makan apa hari ini. Kalau sudah makan di sekolah, ibu enggak masak banyak-banyak,” tuturnya.
Iqbal berharap program ini terus berlanjut dan menjangkau seluruh pelosok Indonesia.
“Semoga menunya juga makin beragam,” harapnya.
Kepala SMPN 1 Jati Kudus, Sumaryatun, menyatakan ada 811 siswa yang menerima manfaat MBG.
“Program ini membantu pemenuhan gizi anak, dari karbohidrat, protein, vitamin, hingga susu,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yunita Dyah Suminar, meminta semua pihak, termasuk orang tua, guru, dan penyedia makanan, menjaga komunikasi agar program berjalan optimal. Ia menekankan pentingnya higienitas dan kualitas makanan sesuai instruksi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Pemberdayaan di Balik Dapur MBG
Di balik sukses MBG, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Tri Sugianto (58), mantan pedagang angkringan, kini menjadi pengawas dapur di SPPG Jepangpakis.
“Di sini rasanya seperti keluarga. Penghasilan saya juga stabil, bisa bantu biaya anak kuliah,” katanya.
Nurwati (52), pekerja bagian pengemasan, juga merasakan manfaat ekonomi.
“Kerja dari jam 04.00 sampai 12.00. Masih ada waktu untuk keluarga. Penghasilan ini buat bayar sekolah anak,” ujarnya.
Mereka bekerja dengan disiplin tinggi, menjaga kebersihan makanan sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN).
Kepala SPPG Jati Kudus, Maulidhina Mahardika, menyebut dapurnya memproduksi 3.700 porsi setiap hari untuk 15 sekolah serta posyandu ibu hamil dan menyusui.
“Anak-anak juga bisa menyampaikan permintaan menu. Kami modifikasi agar tetap sehat dan bergizi,” jelasnya.
Menurutnya, MBG tidak hanya menjamin gizi anak sekolah, tetapi juga memberdayakan masyarakat melalui lapangan kerja lokal. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar