CDK Wilayah VIII Luncurkan Pelita Alam: Laguna Lembupurwo, Pantai Gajah, hingga Muara Luk Ulo Diusulkan jadi Kawasan Preservasi
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Sab, 22 Nov 2025
- visibility 376
- comment 0 komentar

Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Provinsi Jawa Tengah Wilayah VIII meluncurkan program "Pelita Alam" (Preservasi Pesisir di Laguna dan Muara Sungai). (Foto: Hari)
PURING (KebumenUpdate.com) – Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Provinsi Jawa Tengah Wilayah VIII secara resmi meluncurkan program “Pelita Alam” (Preservasi Pesisir di Laguna dan Muara Sungai).
Acara peluncuran berlangsung di Pantai Gajah Desa Waluyorejo Kecamatan Puring, Sabtu 22 November 2025.

Penanaman pohon cemara laut di Pantai Gajah Desa Waluyorejo Puring. (Foto: Hari)
Pelita Alam diinisiasi sebagai upaya konservasi untuk kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir. Kegiatan ini juga dibarengi dengan penanaman simbolis 100 pohon Cemara Laut.
Penghargaan Wana Lestari dan Apresiasi dari DLHK
Dalam kesempatan tersebut, turut diserahkan penghargaan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) Jagawana dari Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan, yang berhasil meraih Juara II Apresiasi Wana Lestari Kategori MPA Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2025.
Penghargaan berupa piala, piagam, dan uang pembinaan senilai Rp6,5 juta diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto ST MT.
Kepala CDK Wilayah VIII, Rina Handayani SP M Eng menjelaskan bahwa Pelita Alam merupakan inisiatif preservasi pesisir di laguna dan muara sungai yang telah dilakukan oleh pihaknya.
“Harapannya, preservasi pesisir ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat, meningkatkan kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan di sekitarnya,” ujar Rina.
Preservasi ini diwujudkan dengan penanaman mangrove dan cemara laut. Hingga saat ini, sebanyak 90.000 batang sudah ditanam di wilayah Kabupaten Kebumen dan Purworejo, jumlah ini masih akan terus bertambah.
Rina juga berterima kasih kepada seluruh stakeholder yang membantu merestorasi pesisir, sebab ketiadaan mangrove dan pepohonan akan mempercepat abrasi.
Laguna Pantai Gajah, Laguna Lembupurwo, dan Muara Sungai Luk Ulo Diusulkan Jadi Kawasan Preservasi Penting
Selain penanaman, program Pelita Alam juga mencakup kajian Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT) di Laguna Lembupurwo, Laguna Pantai Gajah, dan Muara Sungai Luk Ulo.
Kepala DLHK Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, mengapresiasi inisiasi Pelita Alam yang digagas CDK Wilayah VIII.
Ia mengungkapkan, hasil kajian tersebut akan diusulkan menjadi Kawasan Preservasi Bernilai Ekosistem Penting (KEE) di wilayah Pantai Selatan.
”Nanti akan ada dua kawasan, yang pertama KEE Muara Kali Ijo, dan yang kedua kawasan preservasi bernilai penting di Laguna Gajah, Laguna Lembupurwo, dan Muara Sungai Luk Ulo,” jelas Widi Hartanto didampingi Rina Handayani.
Mitigasi Abrasi Menjadi Prioritas Utama
Widi Hartanto menyoroti perubahan kondisi lingkungan pesisir, di mana gumuk pasir di beberapa pantai telah berkurang, meskipun kondisi Pantai Gajah masih cukup baik.
Ia menekankan bahwa isu abrasi di wilayah pesisir, baik Pantura maupun Pansela, memerlukan upaya mitigasi segera agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah.
”Upaya mitigasi menjadi hal yang sangat penting, maka kolaborasi dengan berbagai pihak perlu kita laksanakan,” tegasnya.
Program “Mageri Segoro” yang dicanangkan Gubernur Jawa Tengah hingga saat ini telah menanam hampir 2 juta batang mangrove dan cemara laut.
Widi berharap gerakan penanaman ini dapat terus berlanjut tahun depan, dengan alokasi anggaran yang telah disiapkan.
Ia juga berpesan agar kegiatan preservasi ini tidak berhenti, dan meminta bantuan para penyuluh untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan daerah-daerah kritis yang memerlukan penanganan segera.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah didampingi Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VIII menyerahkan penghargaan kepada MPA Jagawana. (Foto: Hari)
MPA Jagawana, Garda Terdepan Penjaga Hutan
Siwan, Ketua MPA Jagawana, menjelaskan bahwa kelompok yang berdiri sejak tahun 2019 ini tidak hanya berfokus pada pencegahan kebakaran hutan, tetapi juga aktif dalam pengolahan lahan, pembuatan terasering, dan penanaman pohon.
Lembaga ini didirikan setelah peristiwa kebakaran hutan di wilayah Peniron pada 2019. MPA Jagawana kini beranggotakan 25 orang, dengan wilayah cakupan di delapan desa, termasuk Peniron, Watulawang, Karangrejo, Kebakalan, Logandu, Clapar, Wonotirto, dan Giritirto. Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar