16 Geopark Global Baru Disambut di Markas Besar UNESCO: Geopark Kebumen Jadi Warisan Dunia
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Ming, 8 Jun 2025
- visibility 3.681
- comment 0 komentar

Bupati Lilis Nuryani menerima sertifikat dari UNESCO. (Foto: Dok. Kebumen UGGp)
PARIS (KebumenUpdate.com) – UNESCO menyelenggarakan acara penyambutan bagi 16 Geopark Global UNESCO yang baru ditetapkan. Penetapan baru ini mencakup kawasan Asia, Eropa, Amerika Latin, dan Timur Tengah, serta menandai bergabungnya dua negara baru—Republik Rakyat Demokratik Korea dan Arab Saudi—ke dalam jejaring Geopark Global UNESCO untuk pertama kalinya.
Dari Indonesia terdapat dua global geopark baru yang menjadi warisan dunia yakni Geopark Kebumen Jawa Tengah dan Geopark Meratus Kalimantan Selatan. Bupati Kebumen Hj Lilis Nuryani didampingi dokter Faiz Alaudien Reza Mardhika hadir langsung untuk menerima sertifikat dari UNESCO. Sedangkan Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidin hadir menerima sertifikat penetapan Meratus sebagai Global Geopark dari UNESCO.
Acara ini mempertemukan para pengelola dan mitra dari geopark-geopark baru, serta delegasi, komisi nasional, dan mitra dari seluruh dunia—banyak di antaranya bertemu langsung untuk pertama kalinya.
Lidia Brito, Asisten Direktur Jenderal untuk Ilmu Alam, menyambut para peserta dan menekankan peran geopark sebagai kawasan “yang benar-benar mengubah kehidupan masyarakat—tidak hanya secara lokal, tetapi juga secara regional bahkan global.”

Dokter Faiz Alaudien Reza Mardhika mempresentasikan Geopark Kebumen. (Foto: Dok. Kebumen UGGp)
16 Geopark Global UNESCO Baru
“Ini bukan sekadar upacara—ini adalah pertemuan keluarga,” ujar Antonio Abreu, Direktur Divisi Ilmu Ekologi dan Kebumian UNESCO, menggambarkan suasana hangat dalam perayaan tersebut seperti dikutip dari unesco.org.
Setiap geopark baru menampilkan presentasi singkat—secara langsung maupun daring—untuk memperkenalkan situs mereka dan menyampaikan harapan masa depan sebagai bagian dari jejaring Geopark Global UNESCO. Dari formasi vulkanik di Kebumen, Indonesia, pantai berbentuk glasial di Arran, Skotlandia, situs fosil di Yunyang, Tiongkok, hingga tebing pesisir di Costa Quebrada, Spanyol. Semua presentasi mencerminkan keragaman lanskap dan budaya yang dipersatukan oleh komitmen terhadap keberlanjutan.
“Kini, sebagai bagian dari jejaring global UNESCO, kita tidak hanya memperoleh pengakuan, tetapi juga berbagi pengetahuan dan kekuatan bersama. Bersama-sama, kita dapat mengubah ketangguhan lokal menjadi dampak global.”
—Malcolm Wilkinson, Manajer Operasional Geopark Arran, Skotlandia
Beberapa pembicara menekankan peran geopark dalam pendidikan, penciptaan lapangan kerja lokal, konservasi, dan pengurangan risiko bencana. Perwakilan dari Geopark Gunung Berapi Tungurahua dan Napo Sumaco di Ekuador menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan geopark. Sementara itu, Geopark Lang Son di Vietnam menyampaikan visinya untuk mengaitkan warisan geologi dengan lagu tradisional, cerita rakyat, dan praktik leluhur.
“Visi kami adalah membuat masyarakat lokal bangga terhadap wilayah tempat mereka tinggal.”
—Espen Braastein, Geolog dan Pimpinan Proyek Geopark The Fjord Coast, Norwegia
“Geopark Gunung Berapi Tungurahua adalah contoh nyata bagaimana warisan geologi dan budaya dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat lokal.”
—Myriam Piray Quezada, Koordinator Geopark Gunung Berapi Tungurahua, Ekuador

Beragam makan khas dari berbagai global geopark termasuk lanting dari Kebumen. (foto: dok. Kebumen UGGp)
Memperkuat Jejaring
Kristof Vandenberghe, Kepala Seksi Ilmu Kebumian dan Geopark, memberikan gambaran inisiatif UNESCO dalam memperkuat dan memperluas jejaring ini. Dengan 229 geopark yang kini diakui di 50 negara, ia menyoroti upaya yang sedang berlangsung untuk membangun kapasitas di wilayah yang masih kurang terwakili—seperti Afrika Sub-Sahara, Negara Arab, Asia Tengah, serta Negara-Negara Kepulauan Kecil Berkembang.
Program pelatihan di India, Ethiopia, Arab Saudi, dan Amerika Latin juga disampaikan, bersama dengan inisiatif untuk memperkuat koordinasi nasional, memberikan dukungan ahli, dan membantu situs-situs baru dalam proses pengajuan Geopark Global UNESCO.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan jamuan makanan khas dari berbagai wilayah geopark, yang dikoordinasikan oleh inisiatif GEOfood.
“Tidak ada cara yang lebih baik untuk memulai pekan ini,” kata Antonio Abreu, seraya berterima kasih kepada komunitas, ilmuwan, dan pembuat kebijakan yang telah membuat program ini mungkin.
Ia menutup acara dengan pesan, “Biarlah geopark-geopark baru ini menginspirasi kita—melalui kisah, lanskap, dan komunitas yang menjadikannya seperti sekarang—sebagai model kuat untuk pembangunan berkelanjutan.”








Saat ini belum ada komentar