Harga Cabai Tembus Rp90 Ribu per Kilogram, Ini yang Dilakukan Pemprov Jateng
- account_circle Anindya Astadewi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 56
- comment 0 komentar

Pemprov Jateng melakukan intervensi untuk menekan dampak kenaikan harga bahan pokok, termasuk cabai. (Foto: Humas Jateng)
SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia, Perum Bulog, dan petani menggelar intervensi harga pangan untuk menekan dampak kenaikan harga bahan pokok, termasuk cabai merah yang mencapai Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram. Kegiatan yang menyasar pedagang, pengusaha katering, petani, dan masyarakat itu berlangsung di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin, 12 Oktober 2026.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, intervensi tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga, menjamin ketersediaan pasokan, dan mempertahankan keterjangkauan bahan pokok. Pemerintah mempertemukan petani, pedagang, dan pemangku kepentingan untuk memperpendek hambatan distribusi serta menekan tekanan harga di pasar.
“Ini bentuk intervensi. Kita gandeng Bulog, kita gandeng BI, kita gandeng para petani. Jadi, kita pertemukan antara pedagang, petani, dan pemerintah untuk bersama-sama melakukan penetrasi harga, menjaga inflasi, serta ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok,” kata Ahmad Luthfi.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi model pengendalian inflasi yang diterapkan di berbagai daerah, tidak hanya di Semarang.
“Kerja kolaboratif ini yang dijadikan sebagai role model, sehingga Jawa Tengah tetap menjadi provinsi yang inflasinya terkendali. Tidak hanya di Semarang, tetapi juga daerah lain agar inflasi kita terjaga,” ujarnya.
Pedagang Hemat Biaya Bahan Baku
Kenaikan harga cabai dalam beberapa pekan terakhir menekan biaya produksi usaha kuliner. Joko, pedagang nasi goreng, mengaku harus menjaga harga jual agar pelanggan tidak beralih meski harga bahan baku meningkat.
Melalui kegiatan tersebut, ia membeli cabai dengan harga Rp45 ribu per kilogram, lebih rendah dibandingkan harga pembelian terakhirnya sebesar Rp65 ribu per kilogram.
“Ini baru beli cabai 3 kilogram. Harga cabai di pasaran terakhir beli Rp65 ribu, di sini dapat Rp45 ribu. Biasanya untuk membuat sambal saya butuh 5 kilogram untuk satu minggu. Sangat membantu sekali,” kata Joko.
Selisih harga Rp20 ribu per kilogram membantu Joko menekan biaya produksi. Dengan kebutuhan sekitar lima kilogram cabai per minggu, penghematan tersebut berpotensi mencapai Rp100 ribu jika seluruh kebutuhan dibeli dengan selisih harga yang sama.
Manfaat serupa dirasakan Dari, pengusaha katering yang telah menjalankan usaha selama 12 tahun. Ia menyebut kenaikan harga beras dan ayam turut meningkatkan biaya operasional, sementara menaikkan harga menu berisiko membuat pelanggan beralih.
“Kalau kita naikkan harga, pelanggan tidak mungkin karena bisa lari. Jadi, program ini sangat membantu. Yang berpengaruh bagi kami itu harga ayam dan beras,” ujarnya.
Dari mencontohkan, beras yang dijual Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram di pasaran tersedia seharga Rp11 ribu per kilogram dalam kegiatan tersebut. Harga yang lebih rendah memberinya ruang untuk menekan pengeluaran tanpa langsung menaikkan tarif katering.
Antisipasi El Nino dan Gangguan Produksi
Selain mengendalikan harga, Pemprov Jateng menyiapkan langkah untuk mengantisipasi dampak El Nino yang berpotensi memicu kekeringan dan mengganggu produksi pertanian.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan beras kepada masyarakat serta memberikan dukungan sarana pertanian berupa perpipaan dan rumah burung hantu kepada petani. Pemerintah juga mendorong penyesuaian pola tanam berdasarkan kondisi wilayah untuk menjaga produktivitas.
“Pola tanam petani juga disesuaikan dengan program dari Distannak. Karena El Nino inilah maka kita harus mempunyai ide kreatif dalam rangka pengendalian bahan pokok penting di wilayah kita dari hulu sampai hilir,” kata Luthfi.
Pemprov Jateng mencatat produksi padi selama Januari–Oktober 2026 diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling (GKG), setara sekitar 4,9 juta ton beras. Produksi cabai diperkirakan mencapai 404,91 ribu ton, sedangkan bawang merah mencapai 408,76 ribu ton.
Data tersebut menjadi salah satu acuan dalam menjaga ketersediaan pangan daerah. Namun, produksi yang besar tetap membutuhkan distribusi yang lancar agar pasokan sampai ke pasar dengan harga terjangkau. *** Makin Tahu Indonesia
- Penulis: Anindya Astadewi
- Editor: Hanny Garnet







Saat ini belum ada komentar