Mengenang Ibu Martha Tilaar (1937-2026): UMKM Kebumen Tak Harus Besar, Tapi Harus Profesional
- account_circle Sigit Tri Wibowo
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 123
- comment 0 komentar

Dr. (HC) Martha Tilaar (1937-2026)
SUATU hari di pertengahan 2013, Ibu Martha Tilaar berkunjung ke Setana Kunci, sebuah dusun kecil di sudut Desa Grenggeng, Kebumen. Sebuah desa yang mayoritas para ibunya menjadi penganyam daun pandan.
Ini sebuah kunjungan informal yang tetap saja mengundang kehebohan buat warga sekitar. Sambil duduk lesehan di teras rumah, Bu Martha berbincang akrab dengan para perajin itu. Saat hendak pulang, seperti biasa beliau memesan beberapa hasil kerajinan.
Ada pesan menarik yang beliau ucapkan saat nota ditulis, “Saya nggak mau gratis, tapi juga jangan dimahalin. Kalian harus belajar profesional. Siapa pun konsumennya harus dilayani dengan baik dengan standar yang sama. Usaha boleh kecil, tapi sikap harus selalu professional. Jangan karena yang datang artis atau pejabat, lalu kalian sungkan menetapkan harga”.
Sang Putri Gombong
Hingga beberapa puluh tahun silam, tak banyak yang tahu bahwa Bu Martha adalah putri Kebumen. Beliau lahir di Gombong pada 4 September 1937 dengan nama Martha Handana. Sebagian masa kecilnya dihabiskan di rumah sang kakek, Liem Siauw Lam, di Jl. Sempor Lama Gombong.
Sering dikisahkan oleh Bu Martha, bagaimana tahun-tahun hidupnya di Gombong sangat membentuk karakter dirinya. Adalah sang nenek, yang biasa dipanggil Makco yang menjadi panutan bagi Martha kecil. Makco adalah seorang ahli pembuat jamu yang berjiwa sosial tinggi, menjadi andalan bagi masyarakat Gombong yang sakit, terutama di masa-masa sulit selama Perang Dunia II.
Tapi di sisi lain, Makco adalah seorang pengusaha unggul. Sepeninggal sang suami, Makco menjadi nahkoda bisnis keluarga yang mecakup pengolahan kopra, sarang burung walet, peternakan sapi perah dan lain-lain. Namun Makco tidak membiarkan cucu-cucunya tumbuh menjadi anak manja. Martha dan saudara-saudaranya tetap harus hidup dalam disiplin dan terjun langsung dalam berbagai pekerjaan tangan.
Masa kanak-kanak di Gombong inilah yang kemudian membuat ‘jiwa Gombong’ bu Martha begitu kental : seorang pengusaha yang ulet, cerdas namun kuat memegang tradisi dan akar budaya.
Panjangnya perjalanan hidup dalam membesarkan Martha Tilaar Group tidak pernah membuat Bu Martha melupakan Gombong. Di berbagai forum, bahkan dalam pidato di Markas PBB New York, Bu Martha lantang berucap, “I am from Gombong Indonesia”.
Persembahan untuk Kampung Halaman
Kecintaan Bu Martha pada kampung halaman tentu tak sebatas ucapan. Berbagai program pemberdayaan dan sosial dari Martha Tilaar Group sering diadakan di Kebumen. Dukungan yang konsisten juga diberikan lewat komunitas perantauan IWAKK Walet Mas Kebumen.
Namun, bisa jadi salah satu puncak pengabdian pada kampung halaman terwujud ketika pada tahun 2014 Ibu Martha merenovasi rumah kelahirannya dan mengubahnya menjadi sebuah rumah budaya, ruang kegiatan komunitas dan pendidikan.
Rumah bergaya indis yang dibangun pada tahun 1908 itu direnovasi dengan sangat hati-hati untuk menjaga keasliannya. Hasilnya adalah sebuah bangunan heritage yang serta merta menjadi ikon wisata heritage Kebumen sekaligus menjadi ruang kreatif dan budaya. Tepat pada 6 Desember 2014, diresmikanlah Roemah Martha Tilaar, sebuah persembahan Bu Martha untuk kampung halaman.
Sangat menarik bahwa gagasan visioner itu datang dari seorang perempuan berusia 77 tahun (saat itu). Konsep ruang kreatif dan budaya yang terbuka (apalagi berbasis non pemerintah) adalah sebuah konsep yang sungguh-sungguh baru untuk Kebumen saat itu. Perjalanan waktu membuktikan bahwa gagasan Ibu Martha bagi kampung halamannya sungguh-sungguh berkontribusi bagi kemajuan dunia kreatif, pendidikan dan budaya di Kebumen. Bukan semata kontribusi sesaat, namun peran yang terus berkembang dan berkelanjutan. Makin tahu Indonesia
Rabu, 14 Oktober 2026, Ibu Martha berpulang. Hanya selang beberapa pekan setelah salah satu lagu kesayangan beliau berkumandang di Stadion GBK “….walaupun saya pergi jauh, kau takkan hilang dari kalbu. Tanahku yang kucintai….”
Selamat jalan, terimakasih Ibu…
***
Sigit Tri Prabowo, Manager Roemah Martha Tilaar (2016-2019)
- Penulis: Sigit Tri Wibowo







Saat ini belum ada komentar