Semeru yang Dirindu: Nostalgia Pendakian 11 Tahun Silam – 1
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 34
- comment 0 komentar

Di Ranu Kumbolo. (Foto: istimewa)
PENDAKIAN ini sebenarnya sudah saya lakukan pada bulan Mei tahun 2015. Hanya saja, baru kali inilah saya sempat merangkai kembali ingatan dan menuliskannya menjadi sebuah catatan perjalanan. Ini adalah kali kedua saya mendaki Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, setelah kunjungan pertama saya pada tahun 2013.
Segala persiapan tentu dilakukan jauh-jauh hari. Maklumlah, saat itu saya masih bekerja di Kalimantan dengan sistem kerja 86 hari dan jatah cuti 14 hari. Singkat cerita, ada enam orang—termasuk saya—yang tergabung dalam pendakian ini.
Jumat, 8 Mei 2015: Berangkat Menuju Timur
Kami janjian berkumpul di Stasiun Tugu, Yogyakarta, selepas salat Isya. Kereta yang kami tumpangi adalah Malioboro Ekspres, dengan harga tiket yang jika tidak salah ingat berkisar sekitar Rp160.000 per orang.
Setengah jam sebelum kereta berangkat, saya menyempatkan diri mampir ke kios stasiun untuk membeli nasi gudeg sebanyak enam porsi untuk kami nikmati bersama.
Perjalanan malam selalu berhasil memanggil rasa lapar, terlebih saat itu saya memang belum sempat makan malam. Perjalanan kereta dilalui dengan nyaman, hingga akhirnya kami tiba di Stasiun Kotabaru, Malang, menjelang waktu Subuh.
Sabtu, 9 Mei 2015: Menembus Gerbang TNBTS
Belajar dari pengalaman pendakian sebelumnya, setibanya di stasiun kami langsung dijemput oleh angkutan desa yang sudah dicarter untuk menuju Pasar Tumpang.
Di pasar ini, kami transit di sebuah basecamp pendaki (saya lupa nama tepatnya), tempat yang sama persis seperti saat saya transit pada tahun 2013. Kami juga melengkapi kebutuhan logistik dengan berbelanja di pasar; seingat saya, kami membeli jamur untuk dibuat jamur crispy di gunung, serta aneka sayur untuk menu sop dan bakwan.
Sekitar pukul 07.00 WIB, saya menghubungi sopir jip yang sudah dipesan jauh-jauh hari. Waktu itu, tarifnya berkisar antara Rp600.000 untuk sekali jalan dari Pasar Tumpang menuju Ranupane. Sayang sekali buku catatan saya hilang, sehingga data-data spesifik tidak sepenuhnya menempel di kepala.
Perjalanan memakan waktu sekitar 2,5 jam. Di persimpangan antara jalur Bromo dan Semeru (Pos Jemplang), pengemudi menghentikan kendaraannya sejenak, mempersilakan kami turun untuk mendokumentasikan pemandangan alam yang terhampar indah.
Kami sampai di Ranupane sekitar pukul 10.00 pagi. Tanpa membuang waktu, kami langsung melakukan registrasi dan mendengarkan briefing dari petugas. Mengingat target kami adalah tiba di Ranu Kumbolo sebelum gelap, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama di desa ini.
Pukul 11.00 siang, langkah demi langkah kaki kami mulai menapaki jalur pendakian di tengah cuaca yang diselimuti kabut. Satu jam perjalanan, kami tiba di gapura selamat datang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Pendakian kali ini terasa tidak seramai ketika saya naik pada tahun 2013.
Detail waktu dari gapura hingga Ranu Kumbolo memang sudah samar dalam ingatan, tetapi yang pasti, kami berhasil tiba sebelum malam menyapa dan langsung mendirikan dua buah tenda.
Minggu, 10 Mei 2015: Menuju Kalimati dan Ranjau Darat
Pagi hari di Ranu Kumbolo dilewati tanpa terburu-buru. Kami mengisi waktu dengan memasak, menikmati panorama danau yang menenangkan, dan meresapi udara pagi pegunungan.
Bagi pendaki Semeru, perjalanan dari Ranu Kumbolo biasanya dilanjutkan menuju Pos Kalimati—membutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan—untuk bermalam sebelum esok harinya melakukan summit attack.
Sekitar pukul 10.00, kami melanjutkan perjalanan, menyusuri tepian danau, lalu mendaki Tanjakan Cinta. Konon, mitosnya jika seseorang berhasil melewatinya tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, kisah percintaannya akan langgeng. (Kenyataannya? Tentu tidak! Hahaha, itu sekadar mitos belaka).
Tepat tengah hari, kami melewati medan datar luas yang dipenuhi tumbuhan ber-bunga ungu (verbena). Setibanya di pos Cemoro Kandang, kami beristirahat siang cukup lama.
Namun, sebelum melanjutkan langkah ke Kalimati, kami mengingat betul peringatan agar berjalan bersama-sama dan tidak ada yang tertinggal sendirian, mengingat kawasan ini kerap menjadi habitat Panthera pardus melas atau macan tutul Jawa.
Kami tiba di Kalimati saat hari masih sore, lalu mencari titik ideal untuk mendirikan dua tenda. Di sini, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan karena area tersebut dipenuhi “ranjau darat”—sisa pembuangan hajat para pendaki yang kurang tertib.
Saya juga memutuskan membeli air bersih dari warga lokal yang menawarkan air dari mata air Kalimati untuk perbekalan malam dan esok hari. Harganya kala itu Rp10.000 per botol ukuran 1,5 liter.
Airnya cukup jernih, meski masih menyisakan sedikit butiran pasir karena bersumber langsung dari alam. Sebenarnya kami bisa mengambilnya sendiri, tetapi rasa lelah mengalahkan segalanya, jadi saya memilih membeli lima botol sekaligus.
Begitu tenda berdiri rapi, kami mengatur strategi. Mengingat perjalanan ke puncak membutuhkan waktu sekitar 5–6 jam, kami harus tidur lebih awal demi mengejar sunrise.
Aturan dari ranger saat itu juga membatasi waktu summit mulai pukul 01.30 atau 02.00 dini hari. Setelah makan malam bersama, menyeruput minuman hangat, dan menyiapkan perlengkapan esensial, kami beristirahat dan memasang alarm tepat pukul 00.30. **Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar