100 Hari Kerja Luthfi–Yasin: Tarif BRT Rp1000 untuk Pekerja dan Pelajar
- account_circle Kebumen Update
- calendar_month Sen, 26 Mei 2025
- visibility 496
- comment 0 komentar

Kebijakan tarif murah mendapat sambutan positif dari masyarakat. (Foto: Humas Jateng)
GROBOGAN (KebumenUpdate.com) – Dalam 100 hari masa kepemimpinannya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen mulai merealisasikan berbagai program, termasuk di sektor transportasi. Salah satu kebijakan unggulan adalah pemangkasan tarif Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng menjadi Rp1.000, khusus bagi buruh, pelajar, lansia, penyandang disabilitas, dan veteran.
Kebijakan ini mulai berlaku sejak 15 Mei 2025 dan diterapkan di seluruh tujuh koridor Trans Jateng. Sebelumnya, tarif untuk kelompok ini adalah Rp2.000. Kini, cukup menunjukkan kartu identitas, mereka hanya membayar setengahnya.
Respons Positif Pengguna: Hemat Biaya, Nyaman di Perjalanan
Kebijakan tarif murah mendapat sambutan positif dari masyarakat. Di Terminal Gubug, Grobogan—salah satu simpul Koridor Semarang-Grobogan—para buruh menyampaikan rasa syukurnya. Rosita Handayani, buruh pabrik tekstil, menyebut penghematan ongkos tersebut sangat membantu.
“UMR kecil, jadi uang transport bisa dialihkan untuk kebutuhan anak atau belanja,” katanya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Lulu, buruh lainnya. Ia berharap layanan Trans Jateng tetap nyaman dan armadanya ditambah. “Kadang harus berdiri, tapi tetap nyaman. Harganya murah, jadi bisa dimaklumi,” ujarnya.
Dari kalangan pelajar, Rina, siswi MAN 2 Grobogan, merasa sangat terbantu. “Biasanya harus siapkan dua ribu buat pulang-pergi. Sekarang cukup seribu, bisa lebih irit,” ungkapnya.
Penyesuaian Tarif untuk Umum dan Komitmen Pemerintah
Sementara itu, penumpang umum seperti Herma Dwi Handayani yang bukan penerima subsidi tarif kini membayar Rp5.000. Meski demikian, ia tetap memilih Trans Jateng karena kenyamanannya. “Lebih adem, tidak capek, bisa sambil istirahat di perjalanan,” katanya.
Gubernur Ahmad Luthfi menjelaskan, kebijakan ini diambil untuk memberikan akses transportasi murah bagi kelompok rentan dan pekerja. “Tidak semua buruh punya kendaraan. Ini solusi agar mereka bisa bekerja tanpa terbebani biaya transportasi tinggi,” jelasnya.
Ia berharap kebijakan ini turut membantu meringankan pengeluaran harian masyarakat, khususnya buruh.







Saat ini belum ada komentar