Apa Alasan dari Hobi Mendaki Gunung?

Saya masih suka kegiatan ini. Naik gunung. Kegiatan yang mungkin oleh beberapa kalangan disebut “kurang kerjaan”. Sudah capek-capek naik, sampai atas lalu turun lagi.

Selain itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi peralatan yang dibutuhkan ditambah risiko yang dihadapi.

Bacaan Lainnya

“Pak Hari udah berapa kali naik gunung?” tanya salah satu peserta pendakian dalam rangka kelulusan SMA angkatan 2021.

Sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gagal, saya berusaha mengingat kira-kira sudah berapa kali.

“Wah ngga ingat berapa kali, mungkin puluhan,” jawab saya.

“Wihhhh, banyak banget,” timpal dia.

“Ya iyalah, kan udah lama. Dari mulai 2006. Kamu masih sedikit soalnya baru kemarin mulainya. Bisa aja besok kamu lebih banyak dari aku capaiannya,” balas saya.

Saya berusaha memberikan penjelasan sesuai logika sederhana. Itulah sekilas obrolan bersama salah satu peserta pendakian ke Gunung Prau tahun 2021 lalu.

Jalur pendakian setelah area Pestan Gunung Sumbing tahun 2006. (Foto: Hari)

Lalu apa yang membuat sampai hari ini masih menggeluti kegiatan ini? Cinta. Sepertinya ini jawaban yang paling tepat. Menurut saya.

Apapun yang dilakukan atas dasar cinta, tentunya akan mudah dilakukan atau dijalani. Bukan hanya cinta naik gunung. Cinta kepada hal lain rasanya masih relevan. Kepada pekerjaan, keluarga, pasangan, hewan kesayangan, dan masih banyak lagi.

Pos terkait