Kebumen Geopark Trail Run 2026 Diikuti 1.500 Pelari, Dorong Perputaran Ekonomi hingga Rp1,5 Miliar
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 44
- comment 0 komentar

BUAYAN (KebumenUpdate.com) – Pemerintah Kabupaten Kebumen kembali memperkuat posisinya sebagai destinasi utama sport tourism di Jawa Tengah melalui penyelenggaraan Kebumen Geopark Trail Run (KGTR) 2026.
Kepastian kesiapan ajang bergengsi ini disampaikan dalam acara jumpa pers yang berlangsung di Resto Sagara View of Karangbolong, Buayan, Sabtu 27 Juni 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kebumen, Bank Jateng, Sekretaris Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Provinsi Jawa Tengah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kebumen, Wakil Ketua KONI Kebumen, serta Race Director KGTR.
Kepala Disparbud Kebumen Frans Haidar mengungkapkan bahwa Kebumen memiliki kekayaan alam dan potensi wisata yang sangat luar biasa. Sebagai bukti, pada momen libur Lebaran 2026 lalu, Kebumen sukses menempati peringkat pertama dengan jumlah kunjungan wisatawan terbanyak di Jawa Tengah.
Memanfaatkan momentum positif tersebut, pemerintah daerah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menyelenggarakan KGTR sebagai wadah promosi daerah yang komprehensif.
“Event sport tourism ini tidak hanya berfokus pada promosi wisata alam, tetapi juga mengangkat kekayaan kuliner dan kebudayaan lokal. Kombinasi ketiganya terbukti sangat efektif menarik minat pengunjung. Tahun ini, kita berhasil menggaet 1.500 peserta, di mana 1.100 di antaranya berasal dari luar Kebumen, sedangkan 400 pelari lainnya merupakan warga lokal,” ujar Frans.
Ia juga menegaskan komitmen panitia untuk memberikan pelayanan terbaik, menjamin keamanan rute, serta memastikan kelengkapan fasilitas penunjang seperti jersey, medali, dan nomor dada (bib).
Apresiasi tinggi datang dari Sekretaris Dispora Jateng, Syurya Deta Syafrie. Ia menyebut KGTR sebagai ajang istimewa yang menawarkan lintasan dengan pemandangan terbaik di Indonesia karena menyuguhkan panorama langsung ke Samudra Hindia.
Selain meningkatkan minat olahraga lari, ajang ini membawa dampak ekonomi berganda (multiplier effect) yang nyata bagi masyarakat, mulai dari sektor UMKM, kuliner, hingga keterisian penginapan.
“Kebumen telah berhasil meraih predikat Unesco Global Geopark (UGGp). Oleh karena itu, melalui ajang yang memadukan unsur olahraga dan budaya ini, kita juga memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Meskipun jumlah peserta sama dengan tahun lalu yaitu 1.500 pelari, kami menantang pihak panitia untuk menaikkan target jumlah peserta pada tahun depan hingga ke kancah internasional,” kata Syurya.
Dari sudut pandang prestasi, Wakil Ketua KONI Kebumen Arif Budiman mengonfirmasi bahwa kategori lari trail (trail run) kini telah resmi masuk sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Kebumen adalah surganya para pencari adrenalin. Kami melihat ajang lari ini bukan sekadar kompetisi, melainkan sarana positif pemersatu bangsa,” tutur Arif.
Sementara itu, Race Director KGTR Leonardus Bagus menjelaskan bahwa menyusul kesuksesan tahun lalu, pihak penyelenggara tahun ini dengan bangga menghadirkan kategori baru yang ekstrem, yakni Ultra 50K.
Antusiasme peserta pun melampaui target yang ditentukan. Rincian peserta tahun ini meliputi 409 peserta di kategori 7K Fun Run (tanpa podium), sekitar 600 peserta di kategori 17K, 300 peserta di kategori 30K yang didominasi atlet, serta 200 peserta yang siap menaklukkan kategori Ultra 50K.
“Ini adalah pengalaman rute lari paling lengkap yang tidak akan ditemukan di tempat lain. Para pelari akan menghadapi tantangan naik-turun bukit yang terjal, hingga masuk melakukan penjelajahan (caving) di dalam Gua Petruk.
Demi keselamatan, kami menerapkan screening kesehatan yang ketat dan wajib bagi seluruh peserta tanpa terkecuali, belajar dari evaluasi tahun lalu agar tidak ada insiden medis,” jelas Leonardus.
Keunikan lain dari KGTR 2026 terletak pada aspek budayanya, di mana medali yang diberikan kepada para finisher dibuat secara eksklusif menyerupai Genteng Sokka asli Kebumen.
Pemilihan medali ini membawa filosofi mengenai kekuatan dan daya tahan yang tinggi, menyimbolkan bahwa para pelari yang berhasil mencapai garis finis telah teruji secara fisik maupun mental.
Penyelenggaraan ajang ini juga sukses menggerakkan roda perekonomian daerah secara masif. Berdasarkan proyeksi panitia, perputaran uang di Kabupaten Kebumen selama kegiatan berlangsung diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar, ditandai dengan penuhnya keterisian kamar di sebagian besar hotel dan penginapan di sekitar lokasi.
Kendati demikian, pihak penyelenggara mencatat beberapa evaluasi dari peserta terkait fasilitas beberapa homestay warga yang kurang terawat, seperti kebersihan toilet dan kondisi pintu kamar, yang akan menjadi bahan perbaikan ke depan.
Meskipun seluruh peserta tahun ini masih berstatus Warga Negara Indonesia (WNI), pihak panitia bersama Pemkab Kebumen telah menyusun rencana strategis untuk memperluas jangkauan promosi guna mendatangkan pelari mancanegara pada gelaran tahun depan. **Makin Tahu Indonesia








Saat ini belum ada komentar