Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Artikel » Semeru yang Dirindu: Nostalgia Pendakian 11 Tahun Silam – 2

Semeru yang Dirindu: Nostalgia Pendakian 11 Tahun Silam – 2

  • account_circle Hari Satria
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 40
  • comment 0 komentar
Facebook Twitter Whatsapp Pinterest

Senin, 11 Mei 2015: Menuju Atap Jawa

Suhu dingin langsung menusuk tulang begitu kami terjaga. Berbekal jaket tebal, lampu penerang, serta sedikit bekal makan dan minum, kami bersiap memulai summit attack.

Di pos ranger, kami kembali diberi pengarahan mengenai rute, batasan area, serta tata tertib pendakian menuju puncak dan jalur turunnya.

Sekitar pukul 02.00, perjalanan dimulai. Kami menyusuri hutan cemara dan melewati Pos Arcopodo, meski arca kembar yang melegenda itu konon sudah tidak berada persis di sekitar jalur tersebut. Langkah demi langkah kami ayunkan dalam sunyi malam.

Begitu tiba di batas vegetasi—peralihan antara hutan dan area pasir vulkanik—kami berhenti sejenak untuk mengatur napas.

Mencari tempat istirahat di sini bukan perkara mudah; jalur setapak yang sempit dan medan yang curam menuntut kehati-hatian tinggi. Salah melangkah sedikit saja, batu-batu bisa menggelinding dan membahayakan pendaki lain di bawah.

Rombongan kami berjalan dengan tempo yang cukup santai, bahkan beberapa kali disalip oleh pendaki lain. Hingga fajar mulai menyingsing, puncak masih terasa jauh.

Bahkan ketika matahari sudah terbit sepenuhnya, kami belum juga sampai. Baru pada pukul 07.00 WIB, kami menjejakkan kaki di titik tertinggi Pulau Jawa: Mahameru, dengan kawah Jonggring Saloko yang gagah di hadapan kami.

Letupan abu dan gas vulkanik tampak menyembur setiap 20 hingga 30 menit sekali. Kami dan para pendaki lain sengaja menunggu momen tersebut demi mendapatkan latar belakang foto yang dihiasi “wedhus gembel” (asap dan abu vulkanik).

Meski matahari sudah bersinar terik, angin puncak berhembus kencang dan menciptakan hawa dingin yang menggigit. Sesuai imbauan petugas, kami tidak berlama-lama di atas sana.

Pukul 08.00 pagi, kami mulai turun kembali ke Camp Kalimati. Tantangan terbesar saat turun adalah ketelitian memilih jalur. Beberapa kasus kecelakaan pendaki kerap terjadi akibat salah mengambil jalur hingga terperosok ke jurang (seperti area Blank 75).

Sekitar pukul 11.00, kami tiba kembali di tenda. Rasa lelah langsung dibayar dengan istirahat panjang, memasak makan siang, membongkar tenda, dan bersiap melanjutkan perjalanan turun ke Ranu Kumbolo.

Kami sengaja memilih bermalam lagi di Ranu Kumbolo. Belajar dari pendakian tahun 2013 di mana kami nekat turun langsung dari Kalimati ke Ranupane saat magrib, keputusan bermalam kali ini terasa jauh lebih bijak.

Tiba di Ranu Kumbolo sekitar pukul 15.00 sore—yang menandai malam ketiga kami di gunung—kami kembali mendirikan tenda. Kali ini, kami memilih lokasi yang lebih dekat dengan tepi danau agar pemandangan pagi esok hari tidak terhalang tenda lain.

Aktivitas santai seperti biasa kembali dilakukan: menunaikan ibadah, makan, menyeruput kopi, dan merebahkan diri hingga malam mengantar kami ke dalam lelap.

Selasa, 12 Mei 2015: Pulang dengan Kenangan

Pagi hari disambut lebih awal demi menanti detik-detik matahari terbit dari celah bukit Ranu Kumbolo, pemandangan ikonik yang sekilas tampak seperti lukisan pemandangan anak-anak Sekolah Dasar.

Kami memasak sarapan pagi dengan menghabiskan sisa bahan makanan yang ada—seingat saya menunya adalah sop, bakwan, dan jamur crispy, meski ingatan saya mulai samar apakah benar itu menunya.

Sebelum bersiap, saya kembali menghubungi pengemudi jip langganan untuk menjemput kami di Ranupane sekitar pukul 15.00 sore. Pukul 10.00 siang, perjalanan turun dimulai dengan santai agar kami bisa menikmati setiap jengkal pemandangan terakhir.

Tepat pukul 14.00, kami tiba di Ranupane dan mendapati jip jemputan sudah menunggu. Kami segera melapor ke pos registrasi, menyerahkan sampah bawaan sebagai bentuk tanggung jawab pendaki, menaikkan ransel ke atas jip, dan melanjutkan perjalanan sore itu menuju Pasar Tumpang.

Setiba di pasar, kami beralih menggunakan angkutan desa menuju stasiun, dengan sedikit waktu tambahan untuk mampir ke toko oleh-oleh demi memborong manisan apel khas Malang dan aneka keripik buah.

Kereta kami dijadwalkan berangkat pukul 21.00 malam. Waktu luang yang masih panjang di stasiun dimanfaatkan untuk membersihkan diri di toilet. Perjalanan malam itu kembali kami lewati di dalam gerbong Malioboro Ekspres tujuan Yogyakarta.

Rabu, 13 Mei 2015: Kembali ke Realita

Kereta tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta, sekitar pukul 3 pagi. Sembari menunggu pagi terang, kami lewati waktu dengan duduk dan rebahan santai di peron stasiun. Pukul 06.00 pagi, kami berjalan kaki menuju Jalan Mangkubumi untuk mencari sarapan.

Sambil menikmati makanan hangat, kami menghitung kembali rincian biaya pendakian. Seingat saya, total pengeluaran per orang sekitar Rp650.000. Karena sebagian besar pendanaan awal menggunakan uang saya, di akhir perjalanan saya tinggal menerima dana iuran dari teman-teman.

Begitulah secuil kisah perjalanan saya ke Semeru sebelas tahun yang lalu. Seiring berjalannya waktu, beberapa detail mungkin mulai memudar dan catatan fisiknya entah tersimpan di mana.

Namun, hari itu, pendakian ditutup dengan kepulangan kami masing-masing ke rumah, sementara saya sendiri masih menyisakan beberapa hari cuti sebelum kembali merantau ke Kalimantan. **Makin Tahu Indonesia 

Update konten berita lainnya dari Kebumen Update di Google News

Penulis

Suka menulis, membaca dan berpetualang.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kebumen, Ini Kondisinya

    Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kebumen, Ini Kondisinya

    • calendar_month Kam, 12 Jan 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 16.356
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Ruang terbuka hijau (RTH) dipahami sebagai area atau lahan yang ditumbuhi tanaman serta pohon sebagai fasilitas umum bagi masyarakat. Seringnya digunakan untuk aktivitas berolahraga. Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai ruang publik di Kota Kebumen dapat dihitung dengan jari. Di antaranya taman kota yang menempati eks Terminal Bus Kebumen dan Hutan Kota […]

  • Masjid Agung Semarang

    Masjid Agung Kauman Semarang, Sejarah dan Desain Arsitekturnya

    • calendar_month Jum, 6 Okt 2023
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 7.513
    • 0Komentar

    SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Di Kota Semarang terdapat beberapa masjid yang dapat dikategorikan sebagai masjid besar atau masjid agung. Pertama adalah Masjid Agung Kauman yang berada di Jalan Alun-Alun Barat No 11, Kota Semarang. Kedua, Masjid Raya Baiturrahman yang berlokasi di daerah Simpang Lima Semarang. Terakhir adalah Masjid Agung Jawa Tengah yang berlokasi di Jalan Gajah. […]

  • Banyak Program, Kemiskinan di Kebumen Masih Tinggi. Ternyata Ini Persoalannya

    Banyak Program, Kemiskinan di Kebumen Masih Tinggi. Ternyata Ini Persoalannya

    • calendar_month Rab, 4 Sep 2019
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 4.723
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Tingginya angka kemiskinan di Kebumen menjadi persoalan krusial.  Pemkab Kebumen bukannya tidak bekerja melakukan penanggulangan kemiskinan. Dana cukup banyak digelontorkan di setiap OPD di jajaran Pemkab Kebumen untuk penanggulangan kemiskinan. Lalu apa masalahnya sehingga, program penanggulangan kemiskinan seperti tidak efektif dalam mengentaskan warga Kebumen dari lubang kemiskinan. Menurut pegiat pemberdayaan masyarakat dari […]

  • Public Hearing Raperda BUMDes, Kebumen Jadi Pilot Project

    Public Hearing Raperda BUMDes, Kebumen Jadi Pilot Project

    • calendar_month Kam, 6 Apr 2023
    • account_circle Hari Satria
    • visibility 2.073
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Rapat Dengar Pendapat Umum (Public Hearing) Pansus III DPRD Kabupaten Kebumen mengenai Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) digelar Kamis 6 April 2023. Mengundang perwakilan dari Bumdes, DBM eks PNPM, kepala desa, dan pelaku usaha, Bambang Tri Saktiono selaku Ketua Pansus Raperda Bumdes berharap nantinya Perda Bumdes menjadi […]

  • Kebumen International Expo

    Nonton Artis di KIE Berbayar, Bupati Kebumen: Lebih Murah dari Sebungkus Rokok

    • calendar_month Jum, 10 Jun 2022
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 2.525
    • 0Komentar

    KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Gelaran Kebumen International Expo (KIE) 2022 yang akan berlangsung di Alun-alun Kebumen pada 25 Juni sampai 2 Juli 2022  ternyata tidak semua gratis. Selain ada sesi yang free,  event tersebut juga ada yang harus berbayar. Adapun KIE gratis untuk masyarakat dimulai pukul 08.00-13.00 wib. Setelah itu KIE dikenakan tarif tiket. Meskipun untuk […]

  • Libur Tahun Baru, Dua Remaja Terseret Ombak di Pantai Laguna Lempupurwo

    Libur Tahun Baru, Dua Remaja Terseret Ombak di Pantai Laguna Lempupurwo

    • calendar_month Rab, 1 Jan 2020
    • account_circle Kebumen Update
    • visibility 15.387
    • 0Komentar

    MIRIT (KebumenUpdate.com) – Dua remaja dilaporkan terseret ombak di Pantai Laguna Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kebumen, Rabu, 1 Januari 2020 sekira pukul 07.30 wib.  Hingga berita ini diturunkan, kedua korban masih belum ditemukan. Korban  diketahui bernama  Fadlun Ali Fatah (18) warga Desa Manguranan RT 01 RW 02 Kecamatan, Mirit, pelajar kelas 12  IPS SMA Negeri 1 […]

expand_less