Semeru yang Dirindu: Nostalgia Pendakian 11 Tahun Silam – 2
- account_circle Hari Satria
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 40
- comment 0 komentar

Di puncak Mahameru Gunung Semeru dengan latar letupan kawah Jonggring Saloko. (Foto: istimewa)
Senin, 11 Mei 2015: Menuju Atap Jawa
Suhu dingin langsung menusuk tulang begitu kami terjaga. Berbekal jaket tebal, lampu penerang, serta sedikit bekal makan dan minum, kami bersiap memulai summit attack.
Di pos ranger, kami kembali diberi pengarahan mengenai rute, batasan area, serta tata tertib pendakian menuju puncak dan jalur turunnya.
Sekitar pukul 02.00, perjalanan dimulai. Kami menyusuri hutan cemara dan melewati Pos Arcopodo, meski arca kembar yang melegenda itu konon sudah tidak berada persis di sekitar jalur tersebut. Langkah demi langkah kami ayunkan dalam sunyi malam.
Begitu tiba di batas vegetasi—peralihan antara hutan dan area pasir vulkanik—kami berhenti sejenak untuk mengatur napas.
Mencari tempat istirahat di sini bukan perkara mudah; jalur setapak yang sempit dan medan yang curam menuntut kehati-hatian tinggi. Salah melangkah sedikit saja, batu-batu bisa menggelinding dan membahayakan pendaki lain di bawah.
Rombongan kami berjalan dengan tempo yang cukup santai, bahkan beberapa kali disalip oleh pendaki lain. Hingga fajar mulai menyingsing, puncak masih terasa jauh.
Bahkan ketika matahari sudah terbit sepenuhnya, kami belum juga sampai. Baru pada pukul 07.00 WIB, kami menjejakkan kaki di titik tertinggi Pulau Jawa: Mahameru, dengan kawah Jonggring Saloko yang gagah di hadapan kami.
Letupan abu dan gas vulkanik tampak menyembur setiap 20 hingga 30 menit sekali. Kami dan para pendaki lain sengaja menunggu momen tersebut demi mendapatkan latar belakang foto yang dihiasi “wedhus gembel” (asap dan abu vulkanik).
Meski matahari sudah bersinar terik, angin puncak berhembus kencang dan menciptakan hawa dingin yang menggigit. Sesuai imbauan petugas, kami tidak berlama-lama di atas sana.
Pukul 08.00 pagi, kami mulai turun kembali ke Camp Kalimati. Tantangan terbesar saat turun adalah ketelitian memilih jalur. Beberapa kasus kecelakaan pendaki kerap terjadi akibat salah mengambil jalur hingga terperosok ke jurang (seperti area Blank 75).
Sekitar pukul 11.00, kami tiba kembali di tenda. Rasa lelah langsung dibayar dengan istirahat panjang, memasak makan siang, membongkar tenda, dan bersiap melanjutkan perjalanan turun ke Ranu Kumbolo.
Kami sengaja memilih bermalam lagi di Ranu Kumbolo. Belajar dari pendakian tahun 2013 di mana kami nekat turun langsung dari Kalimati ke Ranupane saat magrib, keputusan bermalam kali ini terasa jauh lebih bijak.
Tiba di Ranu Kumbolo sekitar pukul 15.00 sore—yang menandai malam ketiga kami di gunung—kami kembali mendirikan tenda. Kali ini, kami memilih lokasi yang lebih dekat dengan tepi danau agar pemandangan pagi esok hari tidak terhalang tenda lain.
Aktivitas santai seperti biasa kembali dilakukan: menunaikan ibadah, makan, menyeruput kopi, dan merebahkan diri hingga malam mengantar kami ke dalam lelap.
Selasa, 12 Mei 2015: Pulang dengan Kenangan
Pagi hari disambut lebih awal demi menanti detik-detik matahari terbit dari celah bukit Ranu Kumbolo, pemandangan ikonik yang sekilas tampak seperti lukisan pemandangan anak-anak Sekolah Dasar.
Kami memasak sarapan pagi dengan menghabiskan sisa bahan makanan yang ada—seingat saya menunya adalah sop, bakwan, dan jamur crispy, meski ingatan saya mulai samar apakah benar itu menunya.
Sebelum bersiap, saya kembali menghubungi pengemudi jip langganan untuk menjemput kami di Ranupane sekitar pukul 15.00 sore. Pukul 10.00 siang, perjalanan turun dimulai dengan santai agar kami bisa menikmati setiap jengkal pemandangan terakhir.
Tepat pukul 14.00, kami tiba di Ranupane dan mendapati jip jemputan sudah menunggu. Kami segera melapor ke pos registrasi, menyerahkan sampah bawaan sebagai bentuk tanggung jawab pendaki, menaikkan ransel ke atas jip, dan melanjutkan perjalanan sore itu menuju Pasar Tumpang.
Setiba di pasar, kami beralih menggunakan angkutan desa menuju stasiun, dengan sedikit waktu tambahan untuk mampir ke toko oleh-oleh demi memborong manisan apel khas Malang dan aneka keripik buah.
Kereta kami dijadwalkan berangkat pukul 21.00 malam. Waktu luang yang masih panjang di stasiun dimanfaatkan untuk membersihkan diri di toilet. Perjalanan malam itu kembali kami lewati di dalam gerbong Malioboro Ekspres tujuan Yogyakarta.
Rabu, 13 Mei 2015: Kembali ke Realita
Kereta tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta, sekitar pukul 3 pagi. Sembari menunggu pagi terang, kami lewati waktu dengan duduk dan rebahan santai di peron stasiun. Pukul 06.00 pagi, kami berjalan kaki menuju Jalan Mangkubumi untuk mencari sarapan.
Sambil menikmati makanan hangat, kami menghitung kembali rincian biaya pendakian. Seingat saya, total pengeluaran per orang sekitar Rp650.000. Karena sebagian besar pendanaan awal menggunakan uang saya, di akhir perjalanan saya tinggal menerima dana iuran dari teman-teman.
Begitulah secuil kisah perjalanan saya ke Semeru sebelas tahun yang lalu. Seiring berjalannya waktu, beberapa detail mungkin mulai memudar dan catatan fisiknya entah tersimpan di mana.
Namun, hari itu, pendakian ditutup dengan kepulangan kami masing-masing ke rumah, sementara saya sendiri masih menyisakan beberapa hari cuti sebelum kembali merantau ke Kalimantan. **Makin Tahu Indonesia







Saat ini belum ada komentar