Jateng Siapkan 1,1 Juta Genting, Dukung Program Gentengisasi
- account_circle Anindya Astadewi
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 213
- comment 0 komentar

Pekerja menata genting yang sudah dibakar di sentra industri Genting Sokka Kebumen. (Foto: Padmo)
SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Pemprov Jateng menyiapkan kebutuhan awal sekitar 1,1 juta keping genting untuk mendukung program gentengisasi yang ditargetkan melibatkan industri kecil dan menengah (IKM) lokal. Program yang menjadi bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) ini diharapkan memperluas pasar perajin genting sekaligus menggerakkan perekonomian daerah melalui sektor produksi, transportasi, dan perdagangan bahan bangunan.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meminta jajarannya mematangkan persiapan program tersebut dengan mempertimbangkan kemampuan produksi, kelancaran distribusi, dan ketersediaan pembiayaan. Pemprov Jateng menjadwalkan peluncuran Program Genteng Jawa Tengah pada akhir November 2026.
Arahan itu disampaikan Ahmad Luthfi dalam rapat pembahasan program gentengisasi bersama jajaran Pemprov Jateng di ruang kerja gubernur, Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam rapat tersebut, pemerintah membahas salah satu opsi yang muncul adalah memenuhi sekitar 600 ribu keping terlebih dahulu, kemudian melanjutkan pengadaan secara bertahap sesuai kemampuan produksi industri lokal.
Luthfi juga meminta jajarannya mengkaji peluang kerja sama dengan pengembang perumahan agar pemanfaatan genteng produksi Jateng tidak terbatas pada proyek pemerintah.
“Langkah ini dapat memperluas pasar genteng produksi Jawa Tengah, sekaligus mendorong penggunaan produk lokal dalam pembangunan perumahan,” kata Luthfi.
Gentengisasi Berpotensi Gerakkan Ekonomi Daerah
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng, July Emmy, menilai program gentengisasi berpeluang memberikan dampak ekonomi berantai. Peningkatan permintaan tidak hanya menguntungkan produsen, tetapi juga membuka peluang usaha bagi penyedia jasa angkutan dan pedagang bahan bangunan.
“Kalau potensi ekonomi, pasti ini akan memberikan multiplier effect. Mulai dari UKM-nya sendiri, kemudian angkutan, kemudian toko-tokonya, semua bergerak,” ujarnya seusai rapat.
Menurut July, program tersebut dapat menjadi momentum bagi IKM genteng untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jangkauan pemasaran. Namun, pemerintah perlu mengatur pola pemenuhan kebutuhan agar lonjakan permintaan tidak membebani produsen.
“Cuma yang menjadi kendala ini kan karena permintaan itu dalam waktu yang sama. Program pemerintah itu bersamaan,” katanya.
Tantangan tersebut muncul karena sejumlah program perumahan membutuhkan genteng dalam jumlah besar pada periode yang berdekatan. Karena itu, pemerintah perlu menyesuaikan jadwal pengadaan dengan kemampuan produksi masing-masing sentra industri.
Potensi pasarnya terlihat dari pelaksanaan program bantuan perumahan. Pada Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) 2025, sebanyak 3.257 dari total 7.532 unit rumah menggunakan genting sebagai penutup atap.
Sementara itu, kebutuhan genting untuk Program Bedah Rumah 2026 diperkirakan mencapai sekitar 4,7 juta keping. Angka tersebut menunjukkan besarnya peluang pasar yang dapat dimanfaatkan produsen lokal apabila mampu memenuhi kebutuhan volume, kualitas, dan waktu pengiriman.

Pemprov Siapkan 21 Produsen Genting Lokal
Jawa Tengah memiliki basis industri genting tanah liat yang berpotensi mendukung pelaksanaan program. Berdasarkan identifikasi Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Jawa III, terdapat 21 produsen atau unit usaha genting yang tersebar di Banyumas, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Jepara, Grobogan, Sukoharjo, dan Kabupaten Magelang.
Pemprov Jateng menyiapkan langkah peningkatan kualitas dan kapasitas produksi bagi pelaku usaha tersebut. Program pendampingan mencakup pengujian mutu produk, fasilitasi pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI), serta pendampingan penggunaan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).
Pemerintah memperkirakan kebutuhan anggaran untuk pengujian mutu terhadap 21 IKM mencapai Rp20,58 juta. Sementara itu, kebutuhan sertifikasi SNI diperkirakan sebesar Rp220,5 juta. Dengan demikian, total pembiayaan untuk kedua kebutuhan tersebut mencapai Rp241,08 juta. Bank Jateng telah menyatakan dukungan terhadap pembiayaan program peningkatan kualitas industri genteng lokal.
Standardisasi diharapkan membantu produsen menghasilkan genting yang memenuhi persyaratan mutu dan meningkatkan kepercayaan pasar. Selain menyasar kebutuhan program pemerintah, langkah ini juga diarahkan untuk memperkuat daya saing produk lokal di pasar perumahan yang lebih luas.
Disinergikan dengan Program Tiga Juta Rumah
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Jateng, Boedyo Dharmawan, mengatakan pemerintah daerah akan menyelaraskan program gentengisasi dengan Program Tiga Juta Rumah.
“Tentu saja kita pemerintah daerah dan seluruh elemen sektoral akan mendukung program Pak Presiden tentang Gerakan ASRI, yaitu gentengisasi, juga akan disinergikan dengan Program Tiga Juta Rumah,” kata Boedyo.
Pada tahap awal, Pemprov Jateng memprioritaskan pemanfaatan genting lokal untuk proyek bedah rumah yang dilaksanakan pemerintah. Setelah itu, pemerintah berencana memperluas penggunaan produk tersebut melalui keterlibatan pengembang perumahan swasta.
“Kami akan mencoba, barangkali ada pengembang atau developer yang kita dorong untuk ikut juga mendukung program gentengisasi ini dengan memanfaatkan genteng pada proyek-proyek perumahan mereka,” ujarnya. Makin tahu Indonesia
- Penulis: Anindya Astadewi
- Editor: Hanny Garnet







Saat ini belum ada komentar