Menolak Punah, Festival Jamjaneng 2026 Jadi Ruang Regenerasi Seni Tradisi Kebumen
- account_circle Hari Satria
- calendar_month Kam, 25 Jun 2026
- visibility 184
- comment 0 komentar

KEBUMEN (KebumenUpdate.com) – Puluhan kelompok kesenian Jamjaneng dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kebumen memeriahkan Festival Jamjaneng 2026.
Acara yang dibuka oleh Wakil Bupati Zaeni Miftah ini berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu (20–21 Juni 2026), di Auditorium IAINU Kebumen.
Tujuannya menjadi ruang apresiasi sekaligus wadah penguatan eksistensi kesenian tradisional Jamjaneng sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Kebumen.
Ketua Panitia Putut Ahmad Su’adi menyampaikan bahwa festival ini merupakan langkah awal untuk melakukan inventarisasi dan menyerap aspirasi para pegiat Jamjaneng secara masif.
“Berbekal hasil dari kegiatan ini, ke depan Lesbumi PCNU Kebumen telah menyiapkan rancangan program untuk pelestarian sekaligus pengembangan kesenian tradisional Jamjaneng,” ungkap Putut.
Adapun tiga juri dalam acara ini yaitu BE Susilohadi, S.Pd. (Ketua Paguyuban Seni Tradisi Jamjaneng Kebumen/Pastrajakeb), Pekik Sat Siswonirmo (Koordinator Bidang Seni dan Tradisi Lisan Dewan Kebudayaan Daerah Kebumen), dan Sutarjo (Budayawan dari komunitas Kesenian Rasa Kawedhar Kebumen)
Berdasarkan penilaian dewan juri, Grup Jamjaneng Al Hidayah MWCNU Karanganyar berhasil meraih Juara I. Posisi Juara II diraih oleh Grup Jamjaneng Al-Muttaqin MWCNU Kebumen, sedangkan Juara III dibawa pulang oleh Grup Jamjaneng Tri Sejati 3 MWCNU Pejagoan.
Selain itu, dewan juri menetapkan peraih juara harapan, yaitu Harapan I oleh Grup Jamjaneng Al-Hidayah MWCNU Klirong, Harapan II oleh Grup Jamjaneng Nurul Iman MWCNU Kebumen, dan Harapan III oleh Grup Jamjaneng Peganyongan MWCNU Alian. Para pemenang mendapatkan penghargaan berupa tropi dan uang pembinaan.
Tantangan Regenerasi Warisan Budaya
Pekik Sat Siswonirmolo menjelaskan bahwa Jamjaneng merupakan kesenian tradisional khas Kebumen yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
Kesenian ini melantunkan syair-syair salawat Nabi, nasihat keagamaan, serta pesan moral yang sarat nilai spiritual dan sosial.
Namun, Pekik menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi kesenian ini, yaitu masalah regenerasi. Meskipun Kebumen memiliki ratusan kelompok Jamjaneng, mayoritas anggotanya kini sudah berusia lanjut.
“Regenerasi menjadi persoalan penting yang harus segera mendapat perhatian bersama. Pelestarian Jamjaneng tidak cukup hanya dengan mempertahankan pertunjukannya, tetapi juga harus menyiapkan generasi penerus agar kesenian ini tetap hidup,” tegas Pekik.
Melalui Festival Jamjaneng 2026 diharapkan dapat melahirkan langkah konkret untuk memperkuat identitas budaya lokal sekaligus menarik minat generasi muda dalam pelestarian seni tradisi.








Saat ini belum ada komentar