Inovasi “Kupu-Kupu Alam” Antar Supriyono Pustakawan Kebumen Raih Anugerah Pustakawan Indonesia 2026
- account_circle Anindya Astadewi
- calendar_month 17 jam yang lalu
- visibility 205
- comment 0 komentar

Supriyono menerima penghargaan Anugerah Pustakawan Indonesia 2026. (Foto: Istimewa)
SEMARANG (KebumenUpdate.com) – Inovasi literasi berbasis lingkungan dan budaya “Kupu-Kupu Alam” Pelita Geopark Kebumen mengantarkan Supriyono SIPust, pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disarpus) Kabupaten Kebumen, meraih Anugerah Pustakawan Indonesia (API) 2026. Penghargaan tersebut diserahkan pada penutupan Rapat Kerja Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia (Rakernas IPI) 2026 di Semarang, Jawa Tengah, Rabu, 7 Oktober 2026.
Supriyono meraih nilai akhir 81,25 setelah mengikuti rangkaian seleksi yang mencakup pemeriksaan dokumen administratif, verifikasi keabsahan, serta penilaian portofolio berbasis bukti. Ia menjadi utusan Pengurus Daerah IPI Provinsi Jawa Tengah dalam ajang penghargaan yang memberikan apresiasi terhadap inovasi dan kontribusi pustakawan bagi masyarakat.
Program Kupu-Kupu Alam Pelita Geopark Kebumen menjadi karya yang mengantarkan Supriyono meraih penghargaan tersebut. Melalui program itu, peserta didik diajak mendekatkan diri dengan perpustakaan sekaligus mengenal literasi, kekayaan alam, dan budaya yang ada di lingkungan mereka.
Inovasi tersebut memperluas fungsi perpustakaan dari sekadar ruang membaca menjadi sarana pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan potensi lingkungan dan budaya lokal.
Seleksi Melibatkan 17 Peserta
API 2026 pada awalnya diikuti 17 peserta. Setelah melalui tahapan seleksi, kompetisi mengerucut menjadi 10 nominator.
Dewan juri kemudian menggelar rapat pleno pada 3 Oktober 2026 untuk menentukan penerima penghargaan. Penetapan pemenang menggunakan rekapitulasi nilai akhir, konsensus mufakat, dan pertimbangan objektif.
Ketua Umum Pengurus Pusat IPI Joko Santoso mengatakan API 2026 tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Menurut dia, penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan terhadap kerja pustakawan yang selama ini memberikan kontribusi bagi literasi dan pelayanan masyarakat.
“Ini adalah bentuk rekognisi dan juga apresiasi tertinggi terhadap apa yang saya sebut kerja sunyi para pustakawan itu,” kata Joko.
Ia menilai kontribusi pustakawan sering berlangsung jauh dari sorotan publik. Namun, dampaknya dapat dirasakan masyarakat melalui layanan perpustakaan, kegiatan literasi, penelitian, serta berbagai inovasi yang berkembang di daerah.
“Melalui penghargaan ini kita ingin menegaskan bahwa negara dan organisasi melihat, menghargai dan bangga atas dedikasi sunyi yang telah kita torehkan,” ujarnya.
Supriyono mengatakan penghargaan Anugerah Pustakawan Indonesia 2026 menjadi apresiasi sekaligus tanggung jawab untuk terus menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia mengaku bersyukur atas penghargaan tersebut, terlebih inovasi “Kupu-Kupu Alam” lahir dari upaya mengembangkan layanan perpustakaan agar semakin dekat dengan peserta didik, sekaligus mengenalkan kekayaan alam dan budaya yang ada di Kebumen.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, berinovasi, dan menghadirkan layanan perpustakaan yang lebih berdampak. Saya ingin perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga menjadi ruang belajar yang menghubungkan masyarakat, terutama generasi muda, dengan potensi alam, budaya, dan pengetahuan di daerahnya,” ujar Supriyono.

Rakernas IPI Dorong Pustakawan Adaptif di Era AI
Rakernas IPI 2026 berlangsung di Semarang pada 6–8 Oktober 2026 dengan mengusung tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak”. Lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah mengikuti kegiatan tersebut, termasuk pustakawan dari perguruan tinggi, dinas perpustakaan dan kearsipan, perpustakaan khusus, serta pegiat literasi.
Rakernas membahas sejumlah isu profesi, mulai dari peningkatan kompetensi pustakawan, sertifikasi profesi, pengembangan kapabilitas, riset, literasi masyarakat, hingga manajemen pengetahuan lembaga.
Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), IPI juga mendorong pustakawan meningkatkan kemampuan agar tetap relevan dengan perubahan kebutuhan masyarakat.
Joko mengatakan transformasi organisasi harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas pustakawan. IPI memperkenalkan profil pustakawan masa depan dengan konsep De.K.A.T, yakni Dedikatif, Kreatif, Adaptif, dan Tersertifikasi.
Menurut Joko, teknologi tidak menghilangkan peran manusia dalam pelayanan perpustakaan. Justru, pustakawan perlu memperkuat kemampuan yang berkaitan dengan empati dan pemahaman terhadap kebutuhan pemustaka.
“Mesin mungkin bisa menemukan triliunan data, namun hanya manusia pustakawanlah yang memiliki empati untuk mendengarkan keluh kesah pemustaka dan memahami ruang batin mereka. Ruh pelayanan ada pada dedikasi kita, dan itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun,” kata Joko.
Ia juga mendorong pustakawan keluar dari pola layanan konvensional dengan menciptakan program yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Pemanfaatan teknologi dan sertifikasi profesi dinilai menjadi bagian dari penguatan kompetensi sekaligus profesionalisme pustakawan.

“Kupu-Kupu Alam” Perkuat Literasi Berbasis Potensi Lokal
Penghargaan yang diterima Supriyono menempatkan inovasi Kupu-Kupu Alam Pelita Geopark Kebumen sebagai salah satu contoh praktik kepustakawanan yang menghubungkan layanan literasi dengan potensi lokal.
Program tersebut mengajak peserta didik mengenal perpustakaan sekaligus memahami kekayaan alam dan budaya. Pendekatan itu menjadikan lingkungan sekitar sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pengembangan literasi.
Supriyono merupakan Pustakawan Ahli Muda Disarpus Kebumen, inovator Kupu-Kupu Alam, sekaligus Ketua Pengurus Daerah IPI Kabupaten Kebumen.
Bagi IPI, karya dan praktik baik seperti itu menjadi bagian penting dalam pengembangan profesi secara berkelanjutan. Organisasi mendorong lebih banyak pustakawan menulis, melakukan penelitian, serta membagikan inovasi yang telah mereka terapkan di lapangan.
“Kita ingin semakin banyak pustakawan menulis, meneliti, membagikan praktik baik, dan membangun pembaruan layanan berdasarkan bukti. Dengan cara demikian, pengetahuan yang tumbuh di dalam profesi kita akan terus memperkaya kualitas perpustakaan dan pelayanan kepada masyarakat,” kata Joko.
Rakernas IPI 2026 akhirnya tidak hanya menghasilkan agenda organisasi, tetapi juga memberikan ruang bagi pustakawan dari berbagai daerah untuk menunjukkan inovasi dan kontribusi mereka. Bagi Kebumen, penghargaan Supriyono menjadi pengakuan atas upaya mengembangkan literasi yang terhubung dengan kekayaan alam dan budaya melalui ekosistem Geopark Kebumen. Makin tahu Indonesia
- Penulis: Anindya Astadewi
- Editor: Hanny Garnet







Saat ini belum ada komentar